Marriage Life #2: Berjumpa karena Algoritma

Akhirnya, kuputuskan untuk membagikan kisah yang awalnya hendak kututup rapat, tapi kuberanikan diri—secara sadar—melakukannya karena nggak ada yang salah sama sekali dengan peristiwa ini.

Bukan apa-apa. Aku hanya nggak siap dengan respons orang-orang, khususnya teman-temanku yang belum familiar dengan pencarian jodoh secara online. Meski metode ini sudah banyak digunakan jutaan orang di seluruh dunia, tapi tidak di lingkungan pergaulanku. Bahkan aku sendiri sesekali masih merasa ajaib atas keputusanku menggunakan aplikasi.

“Kayak nggak punya kehidupan nyata aja.” Kira-kira begitulah yang kupikirkan dulu. Sampai kemudian pada suatu siang setelah salat zuhur, kuunduh hampir semua jenis aplikasi online islami yang punya rating bagus di Google Play Store.

Anyway, aku mengambil judul yang agak mirip dengan salah satu unggahan seorang muslimah yang juga menemukan jodohnya melalui aplikasi.

toledoblade.com

Terapi dari Allah untuk Luka Masa Kecilku

Singkat cerita, aku berlabuh pada satu aplikasi islami yang di sana Allah pertemukan aku dengan banyak pria—yang melalui mereka, Allah didik perasaanku, emosi-emosi masa lalu, dan segala luka yang ternyata masih sangat basah. Bagaimana caraku berkomunikasi dengan laki-laki, menghargai perasaan mereka, bersikap hormat, menahan amarah, mengalah, membangun kepercayaan, dll.

Melalui proses ini pun aku jadi tahu mengenai apa-apa saja pemicu traumaku. Kiranya ada tiga. Pertama, ketika laki-laki tanya tentang kesehatan mentalku. Cuma tanya, lho, ya, tapi aku bisa tiba-tiba marah karena yang aku tangkap dari pertanyaan itu adalah penghinaan. Aku merasa dia menganggapku gila. Kedua, ketika laki-laki memberitahuku tentang kewajiban-hak/tugas istri, aku bisa tiba-tiba emosi karena rasanya seperti dia merendahkan kapasitasku dan ingin sekali kulawan karena kuanggap dia rival. Ketiga, ketika aku menemukan satuuuu aja kelemahan dia, langsung sosoknya hancur di mataku. Nggak ada bagus-bagusnya.

Serem nggak, tuh? 🙂

Well, aku nggak akan denial dengan pemicu traumaku ini. Aku nggak perlu malu juga. Justru aku sangat mengapresiasi diriku yang menyadari kelemahan ini—yang terhitung—cukup cepat dipahamkan oleh Allah. Biidznillah. Kenapa cepat? Ya soalnya baru 1 tahun lebih pakai aplikasi online ini dan selama itu pula Allah didik mental dan emosionalku agar matang dan siap menikah.

Pada akhirnya, aku jadi bisa menyiapkan ilmu demi menyembuhkan traumaku sekaligus memastikan kembali kesiapan psikologis agar di masa depan, aku nggak menyakiti pasanganku dan anak-anak. Insyaa Allah.

Sikapku kelak ke pasangan dan anak-anak adalah pilihan yang bisa kutentukan sendiri, kukendalikan langsung sejak sebelum menikah. Maka aku telah memilih untuk memutus rantai ini. Cukup aku yang menjadi korban. Cukup Ibuku yang terakhir mengalami kekerasan. Setelah kakek-nenekku, cukup orangtuaku yang menjadi pasangan terakhir yang berakhir di meja hijau.

Aku, atas izin Allah, tidak akan pernah mengalami itu. Aku yakin, tidak akan pernah menyesal seseorang yang beristikharah. Allah menyaksikan, aku telah melibatkanNya bahkan sebelum memulai proses taaruf. Bahkan (lagi) sebelum menggunakan aplikasi, aku sempat minta kepada Allah…

“Ya Allah… aku tidak punya orangtua, khususnya bapak, yang bisa membantuku mencarikan jodoh sesuai yang kumau. Aku sudah ikhtiar meminta pertolongan teman dan orang-orang terdekat. Harus dengan cara apa lagi aku berikhtiar, Ya Rabb? Sekarang aku hanya punya Engkau dan Rasul-Mu di sisiku. Rasulullah salallahu’alaihi wasallam sudah tiada, maka tidak bisa kumintai saran. Seandainya beliau masih hidup, aku ingin sekali beliau membantuku dalam perkara ini.

Allah… ibuku ingin sekali aku menikah, sedangkan aku tidak tahu apakah aku sudah siap untuk memulai jenjang itu. Jika menurutMu aku belum siap, maka mohon siapkanlah diriku dengan caraMu, Allah… Kepada siapa lagi aku harus minta jika bukan kepadaMu? Jika memang menikah adalah hadiah terindah yang bisa kuberikan untuk Ibuk, maka mohon kabulkanlah doa beliau, Rabb-ku… Aku akan dengan senang hati memenuhinya.

Jika dengan cara itu aku bisa membuat hatinya bahagia dan ridha, maka mohon kabulkanlah hajat beliau, Ya Rabb… Di antara sekian banyak dosaku kepada Ibuk, jika hanya dengan cara itu Engkau menurunkan ridha-Mu kepadaku dan mengampuniku, maka aku akan melakukannya, Allah… Mohon siapkan diriku.

Aku telah mengalami bagaimana rasanya neraka di dalam rumah lalu sekarang telah kutemukan ketenangan bersamaMu dan kebahagiaan bersama Ibuk. Mohon anugerahkan ketenangan dan ketenteraman yang serupa bersama jodohku kelak, Allah…

Seorang suami yang taat dan takut kepadaMu. Ketika melihat wajahnya dan berada di dekatnya, hanya ketenangan dan ketaatan yang semakin bertambah yang kurasakan, yang gemar bersedekah sebagaimana permintaan Ibuk, yang dekat dengan ibunya dan paham cara memperlakukan wanita dengan lembut dan penuh rasa hormat.

Namun, jika Engkau menghendaki aku harus menghabiskan usia mudaku untuk merawat Ibuk, maka jadikan hatiku lapang dan bahagia melakukannya. Jadikan hatiku lebih mencintai kehendakMu dibandingkan hawa nafsuku. Jika terasa berat bagiku, maka ringankanlah dan akan kujalani semuanya demi mendapat ampunan dan kasih sayangMu, Allah… Asalkan… asalkan Engkau tetap bersamaku.

Bukankah Engkau berjanji bahwa ketika seorang hamba berjalan ke arahMu, maka Engkau akan berlari ke arahnya? Maka, Allah, saksikanlah, saat ini aku sedang berlari ke arahMu. Mohon dekati aku, dampingi aku, peluk aku, tetaplah bersamaku sampai kapan pun.”

Kemudian setelah perjalanan panjang bertaaruf dari satu pria ke pria lain, yang kupikirkan hanya satu: akan kujalani proses ini sampai garis akhir. Entah di mana lokasi ujungnya: berhenti di aplikasi atau di pelaminan. Pokoknya jalani aja proses taaruf ini dan kulatih diriku agar tidak menyakiti siapa pun. Kalaupun ada hati yang tersakiti karena ketidaksengajaan, cukuplah Allah tempat memohon ampunan.

Pesan ibuk, “Jaga lidahmu karena lidah perempuan itu tanpa sadar seringkali menyakiti hati seorang pria. Apalagi kamu yang tumbuh besar tanpa laki-laki dan di kepalamu itu laki-laki kayak nggak ada yang bener.” #maaaak

Lalu bagaimana cara Allah memberiku terapi melalui proses taaruf online ini?

 

to be continue…

Terima kasih sudah membaca :D Apa pendapatmu?

error: Content is protected !!