Apa Klimaks dari Quarter Life Crisis?

2019 menjadi tahun lompatan besar bagi pemikiran saya yang sebelumnya didominasi satu dua atau tiga sudut pandang. Sekarang saya punya banyak sudut untuk melihat sesuatu. Lebih jelas, lebih jernih, dan tentu hasilnya tidak hanya hitam dan putih.

2019 sekaligus jadi klimaks dari quarter life crisis yang saya rasakan sejak 2016. Akhirnya, dengan hidup yang tak melulu didorong ambisi, hidup yang tidak harus selalu digas, saya dapatkan posisi ikigai yang—kata sebagian besar orang—cuma 0.1% yang betul-betul sampai ke sana, ke posisi di mana apa yang kita cintai bertemu kebutuhan dunia saat ini bertemu keahlian bertemu penghasilan. Semuanya berkumpul pada satu titik. Itulah ikigai. Idealis realistis.

indonesiana.id

Saya termasuk yang tidak terlalu percaya bahwa life crisis hanya terjadi pada fase quarter atau usia seperempat abad, pada kisaran 20-27, ada yang bilang 25-30, ada juga versi lain 25-27. Saya simpulkan dari pendapat mayoritas, rentangnya ada pada usia 25-30 tahun.

Saya pikir, setiap fase hidup seseorang, selalu ada titik kritis, di mana dia mengalami kekhawatiran akan kondisi dirinya dan orang-orang yang dicintainya di kemudian hari. Namun, mengapa pengalaman terbanyak ada pada usia 20-an? Sebab pada saat itu, kita sudah masuk usia dewasa. Semua problematika hidup sudah bisa dilihat dengan jelas, sudah dimengerti, sudah melibatkan peran kita sebagai salah satu kendali terhadap keputusan-keputusan penting, sudah mandiri, dan sudah terbebani dengan segenap tanggung jawab orang dewasa lainnya yang secara otomatis ada di pundak.

Passion (Nggak) Bisa Dimakan: Idealisme vs Realitas

Tergantung.

Bagi saya, ikigai itu berkejaran dengan usia. Semakin muda menemukan ikigainya, semakin mudahlah dia menetapkan visi hidupnya untuk masa depan. Ikigai ini hanya alat. Ia ibarat pena. Lembaran peta adalah hidup kita, nama-nama negara adalah tujuan yang ingin kita capai. Dengan pena, kita buat jalur transportasi menuju negara-negara yang ingin dikunjungi.

ideas.ted.com

Passion yang diseriusi lalu menghasilkan uang dan jadi profesi utama, wajib punya jam terbang. Hasil yang profesional tentu tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Kerja kerasnya harus sedini mungkin. Ini tugas orangtua membantu anak menemukan minat bakat, untuk kemudian diarahkan agar minat bakat anak tak hanya memuaskan hati, membahagiakan ketika dilakukan, tapi juga menghasilkan uang dan bisa memberi manfaat untuk orang lain. Inti dari ikigai adalah komprehensif.

Kejar passion itu idealis. Sayangnya, kita tidak hidup di dunia dongeng fantasi yang banyak cerita indahnya. Well, bahkan dalam dongeng pun tetap ada konflik dan ujian hidup yang harus dihadapi pemeran utama. Kita sedang hidup di dunia yang super bengis. Bila masa-masa mahasiswa, hidup idealisme adalah mutlak, maka selepas kuliah, kita perlu menjadi lentur.

Bila sampai fase usia seperempat abad belum juga menemukan passion, maka sampingkan dulu idealisme. Gunakan kacamata realitas untuk melihat bahwa kita butuh pemasukan demi bertahan hidup. Jika pemasukan sudah stabil, maka pelan-pelan bangun bisnis sampingan lewat passion yang juga harus menjawab kebutuhan zaman dan kebermanfaatan.

Jika bisnis lewat passion itu sudah stabil, kita bisa tinggalkan pekerjaan lama yang barangkali tidak sesuai minat bakat, tidak kita cintai. Idealisme kita dapatkan kembali, tapi tak lantas membuang realitas begitu saja. Sebab –sekali lagi—kita hidup di dunia yang kejam dan suka menggilas siapa saja yang tertinggal, yang malas, yang susah move on, yang kaku, yang keras kepala, yang sulit membuka diri.

Lompatan Besar dalam Hidup

Bertemu ikigai, membuat satu beban hidup saya terangkat. Ketika semua masalah bercampur aduk minta diselesaikan cepat secara bersamaan, maka saya butuh alat untuk mengurainya. Ketika sudah terurai, langkah saya menjadi lebih ringan.

Saya merasa segar, menjadi diri saya sepenuhnya, meski bagi saya ini sangat terlambat. Harusnya, saya bisa lebih cepat matang saat mulai masuk kepala dua. Waktu matang ini yang kelak akan saya bentuk pada anak. Sahabat Rasulullah yang masuk Islam pada generasi awal adalah anak-anak muda. Masih pada saat Islam berjaya, ada gubernur usia 13 tahun, panglima perang usia 21 tahun, dll.

Kalau pada usia semuda itu mereka sudah menempati pucuk kepemimpinan, memegang peran penting dalam masyarakat sosial, kira-kira, apa yang mereka lakukan sejak mulai bisa berjalan? Apa yang mereka bicarakan ketika waktu senggang? Apa yang mereka kerjakan pagi dan siang? Aktivitas rutin apa yang mereka biasakan setiap malam?

Tentu, kematangan bukan perkara usia. Bagi saya, kematangan adalah soal kuantitas ilmu yang ditempa oleh pekerjaan lapangan hingga pada akhirnya mengasah kualitas pribadi seseorang. Saya yakin, pemuda-pemudi yang namanya harum di langit-langit sejarah –yang hidup pada masa Rasulullah maupun setelahnya— adalah mereka yang sejak kecil, hidupnya sudah tertempa dengan kesulitan dan laku prihatin. Tidak akan mudah membayangkan bagaimana caranya, seberapa besar kegigihan orangtua atau para guru mendidik mereka.

Saya merasa terlambat, tapi keterlambatan ini tidak boleh diratapi. Saya merasa, memang saat sekarang inilah waktu yang pantas bagi saya untuk mendapatkan satu kondisi mental yang prima dan bugar. Kalau kemarin-kemarin, masih banyak hal yang saya khawatirkan, maka sekarang, ketika datang kekhawatiran itu, saya bisa dengan mudah menepisnya.

Robbanaa atinaa miladunka wa rahmah wa hayyi’lana min amrina rasyada. Ya Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini.

16 tanggapan pada “Apa Klimaks dari Quarter Life Crisis?

  • Saya rasa orang-orang yang harum dalam sejarah itu sudah tahu harus mencatatkan sejarah hidupnya seperti apa. Barangkali visi mereka yang sangat jelas akan kehidupan dan kehidupan akhirat.




    0
  • Setuju, kematangan bukan perkara usia. Kadang ada yang usianya lebih muda bisa lebih keliatan matang dibandingkan yang sudah berumur. Saya banyak menemukan individu seperti itu.
    Karena kematangan juga bisa timbul dari berbagai pengalaman hidup




    0
  • Sepakat bahwa setiap rentang usia mempunyai krisisnya sendiri. Bahkan rencana hidup yang sudah dipetakan dengan sebaik-baiknya ada aja melencengnya dan bikin kuatir yg berlebihan.
    Dan katanya, kekhawatiran juga bagian dari ujian hidup, jika bisa melaluinya dengan baik, semakin dekatlah dengan ketenangan bathin.
    Sukses untuk lompatannya mba.




    0



    0
  • Semakin ke sini, saya semakin berpikir kalau hidup memang proses. Membuat target itu penting juga. Tetapi, bila belum tercapai atau belum punya passion pun gak apa-apa. Selama kita bisa menjalankan prosesnya dengan baik




    0



    0
    • Nah ini, setuju. Belum punya passion pun ga masalah. Kembali pada jati diri masing-masing, disesuaikan dengan kebutuhan diri dan prioritas. Passion pun pilihan.




      0
  • Idealisme vs realitas. Topik yang sering diucap orang dewasa pada orang-orang yang baru lulus. Dan setuju banget saat di masa mahasiswa kita harus idealis lalu seepas masa itu harus bergerak lentur. Hal ini pasti mempengaruhi kita dalam menyelesaikan masalah.
    Ikit bngga kakak sudah berada pada ikigai, segar baca artikelnya, salam kenal:)




    0
  • Yes, menurutku age is only a number. Soal kematangan dan kedewasaan berpikir dan bersikap itu banyak dipengaruhi sama lingkungan sekitar dan wawasan. Well, life crisis does happen. Gak hanya di quarter, tapi menurut saya bisa kapan aja. Kita harus mau membuka wawasan dan terus belajar sih karena tantangan kehidupan makin lama makin kompleks juga




    0
  • DI kala usia muda sudah menjadi pucuk pimpinan pastinya sejak kecil sudah bekerja keras ya dalam arti giat dll. Ditambah mungkin dorongan orang tua untuk mengarahkan anaknya dan selalu menuntut ilmu.
    Kadang ada yg disesali dalam hidup tapi gak ada kata terlambat ya untuk mempebaiki . Selft reminder ini buat aku




    0
  • kematangan diri dan pribadi memang hasil dari satu proses. Beberapa orang melewati proses yang panjang, beberapa lainnya ‘dipaksa’ untuk cepat matang karena keadaan. Yang penting kita harus sadar dengan kondisi diri sendiri yaaa




    0
  • Setujuuu kalau kita punya passion dan jd profesional pasti butuh waktu ya tidak instan dan tidak buru2 untuk mau dapat rupiah yg lebihhh . Semoga kehidupan kita ke depan bisa berjaya dengannpassion yg terus dikembangkan ya mbak




    0
  • Saya pernah ada di quarter life crisis juga, diusia 25’an hehe. Namun dengan berjalannya waktu, saya bisa survive dan stabil seperti sekarang. Proses yang membawa saya bisa merasa stabil juga dipengaruhi oleh lingkungan saya, dengan siapa saya berteman, dengan siapa saya berbicara, buku apa yang saya baca, siapa yang saya follow di sosial media, dan lain sebagainya 😀

    Dan bicara soal passion, dulu saya berpikir kerja itu harus sesuai passion, dan saya mati-matian berusaha untuk mengejar passion saya itu. Tapi saya ingat kata ortu saya, kerja itu harus realistis jangan idealis. Boleh idealis, tapi nanti kalau uang kamu sudah cukup untuk mengejar idealisme yang kamu punya. Semenjak itu, saya kerjakan apa yang saya bisa meski bisa dibilang bukan passion saya awalnya. Namun lambat laun, karena saya kerjakan dengan suka cita, yang tadinya bukan passion justru jadi passion saya sekarang 😀

    Keep writing and sharing ya 😀




    0

Terima kasih sudah membaca :D Apa pendapatmu?

error: Content is protected !!