Susah Menuangkan Ide Dari Kepala? Ada 11 Cara Memulai Menulis: Catatan Untuk Penulis Pemula #1

Bingung bagaimana caranya memulai menuliskan isi kepala yang berdesakan ingin dikeluarkan? Dari mana seharusnya memulai menulis? Kenapa rasanya susah sekali? Bagaimana caranya menulis? Kalau belum menguasai teknis menulis, kok rasanya belum pede ya?

Solusi mujarabnya cukup sederhana. Mengutip petuah Gertrude Stein, penulis Amerika yang memelopori perkembangan sastra modernis, “Menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis adalah menulis…”

“Iya sih, kuncinya ya nulis aja, tapi… aku takut tulisanku nggak ada yang mau baca karena jelek banget. Gimana ya caranya aku bisa mulai nulis dan tulisanku renyah, bagus, enak dibaca?”

YA NGGAK BISA DONG, BOSQUE 🙂

Kalau kamu baru memulai aktivitas ini, baru mau belajar menulis, sebelumnya belum ada pengalaman menulis apa pun kecuali pesan whatsapp, jelas tulisanmu tidak akan langsung jadi indah dan cantik. Butuh jam terbang, proses berlatih, berlembar-lembar buku dibaca, berkali-kali tatap muka diskusi dengan orang lain, dsb.

Namun, jangan kemudian jadi ciut dan inferior setelah mendengar bahwa untuk menghasilkan tulisan ciamik itu butuh waktu tidak sebentar. Setiap orang punya jalan dan momentumnya masing-masing. Dengan catatan, gigih saat belajar dan ditekuni terus-menerus. Insyaa Allah proses tidak akan membohongi hasil,

Lalu sekarang, apa yang harus kamu lakukan?

1. Nekat

Adakalanya untuk mengatasi sesuatu yang kamu anggap momok, maka cukup dibutuhkan sikap nekat untuk berhadapan dengan momok itu sendiri. Kamu takut memulai menulis karena segudang alasan? Hajaaaar bleh! Semakin kamu takut, semakin harus nekat kamu tulis ketakutan itu.

Dilarang keras membanding-bandingkan kualitas tulisanmu dengan karya orang lain. Cukup jadikan mereka motivator. Jika ingin tulisannya seperti dia, maka pelajari bagaimana ia berproses dari nol. Sesuaikan dengan keadaanmu.

Misalnya, dia butuh waktu 5 tahun untuk sampai pada tulisan yang bagus. Apa yang dia lakukan selama 5 tahun itu dari tahun pertama? Berlatih setiap hari? Oke, kalau begitu saya akan mulai dengan latihan setiap hari, dst.

2. Jangan Terlalu Perfeksionis

Sebetulnya, proses memulai menulis itu juga berarti mencoba memaafkan tulisan pertamamu yang berantakan. Cukup mulai saja menulis, baru selanjutnya lanjutkan menulis, kemudian ulangi lagi menulis. Tuangkan apa saja yang aa di kepalamu yang ingin kamu ceritakan. Jangan sekali-kali memerhatikan terlebih dulu Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) serta segala macam tetek bengek aturan menulis. Itu saja intinya.

“Menulislah dengan bebas dan secepat mungkin, dan tuangkan semuanya ke atas kertas. Jangan sekali-kali melakukan koreksi atau menulis ulang sebelum semuanya habis Anda tuliskan!”

[John Steinbeck]

Mengapa sebagai pemula, seseorang ditekankan untuk menghindari pantangan mengedit sebelum naskah selesai? Sebab, dapat dipastikan akan membuat stamina menulis banyak terkuras di tengah jalan. Napas keburu ngos-ngosan sebelum mencapai garis akhir, lalu membuyarkan ide yang sebelumnya ingin dikeluarkan semua. Jangan sampai tewas di tengah jalan.

3. Tulis Hal-hal yang Dekat Denganmu, Dari Keseharianmu. Jangan Ngoyo Cari Ide

Nah, untuk memulainya, tulis hal-hal yang dekat denganmu. Entah itu berupa perasaan yang sedang dialami, atau segala permasalahan yang sedang mencuat di sekitar. Hal ini bisa dilakukan dengan cara membuat catatan atau bahkan buku harian, status di media sosial juga boleh. Asalkan tetap memerhatikan adab berkata-kata di dunia maya. Kebiasaan seperti itu bisa melatih kepekaan dalam menggunakan pilihan kata yang dituliskan.

Terkadang, kata yang paling sederhana adalah yang paling indah, juga paling efektif.”
[Robert Cormier]

4. Perbanyak Membaca Untuk Menambah Tabungan Kosakata

Jangan katakan kamu kurang (atau barangkali tidak) suka membaca lantas memimpikan bisa menulis tulisan yang enak dibaca. Membaca adalah harga mati untuk menambah wawasan, mengasah intelektual, menambah bank kosakata agar susunan kalimat yang dibuat terasa segar.

5. Sering Interaksi dan Diskusi

Selain buku, diskusi juga akan menambah wawasan, saling berkomunikasi, membandingkan, mengklarifikasikan bahkan memperdebatkan pengetahuan secara langsung. Pada forum seperti ini, kamu bisa minta tulisanmu dikoreksi atau saling mengoreksi tulisan antar teman. Boleh jadi, wawasan yang diperoleh temanmu, belum kamu dapat. Pun sebaliknya. Proses diskusi ini akan membantumu mengolah apa yang masuk ke dalam kepala sehingga terjadilah pemahaman.

6. Mengikuti Perkembangan Isu-isu Terkini

Fungsinya, agar otak kita tidak seperti museum zaman pra-sejarah, agar otak kita tidak gagap oleh era industri 4.0 dan era-era baru setelahnya yang entah akan ada inovasi apa lagi. Ada banyak media digital yang dapat memudahkan kita untuk membuntuti perkembangan informasi. Jangan malas mencari tahu. Jangan terlalu cuek.

7. Menghadiri Forum-forum Kepenulisan

Luangkan waktu khusus untuk ikut seminar/gelar wicara/lokakarya tentang menulis. Meski berbayar, tidak ada salahnya mencoba ikut juga. Jangan berharap gratis melulu dan jangan minta disuapi terus. Kalau inigin maju, maka melangkahlah keluar rumah, bergeraklah. Jangan tunggu diberi, tapi mulailah mencari.

8. Riset/Cari Referensi Data Untuk Menunjang Tulisan

Resep ini akan menjadikan tulisanmu lebih berbobot. Sebab, menulis memang tidak saja mengasah keterampilan menggunakan kata-kata, tapi juga harus lihai dalam akurasi data. Jadi tidak hanya piawai memainkan dan mengolah kata saja, tetapi juga memiliki referensi dan informasi yang berbobot di dalamnya.

9. Mulailah dengan Menulis Di Blog

Ini kan era digital. Fasilitas blog bisa digunakan sebagai sarana untuk memacumu agar terus berkarya. Bisa saling berkunjung dan mengomentari blog orang lain, namanya Blog Walking (BW). Blog bisa menjadi sarana berlatih menulis setiap hari, berdiskusi juga, dapat wawasan baru, wah banyak.

10. Ikut Lomba-lomba Menulis

Kompetisi menulis dapat memompa semangat untuk bersaing menciptakan karya yang terbaik. Kamu jadi terlatih untuk tidak hanya menulis asal-asalan, tapi juga sudah mulai naik tingkat ke tahap selanjutnya, yakni menulis dengan PUEBI. Hitung-hitung, melalui lomba, kamu sedang mempraktikkan hasil baca buku, hasil diskusi, hasil datang ke forum-forum kepenulisan, dan hasil dari latihan setiap hari lewat blog atau status media sosial. Seru, lho, ini.

11. Ibadah

Nah, apa pula ini hubungannya? Tentu ada, dong. Sekurang-kurangnya, dengan beribadah maka akan dapat menyegarkan dan menyucikan hatimu sehingga dengan kondisi itu akan mudah memunculkan inspirasi. Saya punya salah satu penulis favorit yang acapkali hendak memulai aktivitas menulis, selalu berwudhu dan berdoa. Kalau bangun pukul 02.00 atau 03.00 pagi, beliau salat tahajud dan membaca Alqur’an dulu, baru kemudian menulis.

Saya pikir, hal terbaik menjadi seorang penulis adalah kita dapat mereka-reka segala sesuatu sekaligus mengatakan kebenaran pada saat yang sama.”

[Kyoko Mori]

6 tanggapan pada “Susah Menuangkan Ide Dari Kepala? Ada 11 Cara Memulai Menulis: Catatan Untuk Penulis Pemula #1

Terima kasih sudah membaca :D Apa pendapatmu?