Tugas Baru Tiap Malam: Mengajari Dua Anak Tetangga Membaca

Pekerjaan baru saya, Ibuk, dan Tante adalah mengurusi dua gadis kecil, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dua gadis kecil yang datang seketika pada suatu malam, diantar tetangga sebelah, berpakaian dekil, kaki busik, rambut kutuan, keringat apek, pipi tirus, badan ceking kurus, ampun!

Raut wajah saya pertama kali yang bisa saya ingat adalah tanpa ekspresi, saking shocked-nya. Tapi di dalam kepala rasanya macam naik roller coaster lalu semua bautnya copot, dan para penumpang jatuh dari ketinggian ribuan meter ke daratan yang isinya anaconda. “WHAAAAAAAAT THE JOKE IS GOING ON???!!!”

Sulit Menerima Kehadiran Dua Anak Baru Di Rumah

Saya cuma bisa urut dada dan pijat kepala. Baik, barangkali ini cara saya untuk belajar bagaimana kesabaran bekerja. Saya hibur diri sendiri dengan ingatan-ingatan lawas bahwa saya pernah mengajar anak-anak pada Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang pengabdian masyarakat selama dua kali, dalam jangka waktu yang lumayan lama. Sedikit pengalaman itu cukup menghibur saya, meski tidak sepenuhnya membuat saya tenang dari letupan emosi yang siap menciprat kapan saja.

Mereka adalah dua gadis kecil dengan pekerjaan sebagai pemulung sepanjang karir kanak-kanaknya. Selain sekolah, mereka diberi kesempatan keluar cuma untuk mencari sampah. Pekerjaan itu baru selesai pada pukul 01.00 sampai 02.00 pagi, setelah seharian, dan mereka baru boleh pulang ke rumah begitu semua sampah yang bernilai jual terkumpul cukup. Tidak pernah ada waktu untuk belajar, tidak pernah ada perhatian, tidak ada belaian Ibu. Dua gadis kecil itu tumbuh tanpa bimbingan.

dua anak yang tinggal di rumah bersama sahabat saya

Mereka punya orang tua; Ibu kandung dengan keterbelakangan mental, dan Bapak tiri yang masa bodoh. Rumah pinjaman sepetak dengan listrik menumpang tetangga sebelah. Duduk di bangku sekolah dasar yang bobrok macam Laskar Pelangi; guru satu dua, mengurus sekolah seenak perutnya macam mengurus kandang ayam. Bedanya, ini kandang isi anak-anak kampung.

Sampai di sini, saya mulai menerima pelan-pelan. Tepatnya, terpaksa menerima. Sebab Ibuk yang lebih dulu menyetujui ide tetangga sebelah. Si tetangga prihatin terhadap kondisi dua gadis kecil itu, lalu mencari solusi dengan menitipkan mereka di rumah saya. Di rumah Ibuk, maksudnya.

Sering saya berandai-andai dan menyesalkan kenapa harus ide itu yang ada di kepala tetangga saya? Kenapa harus di rumah saya? Kenapa bukan rumah orang lain? Kenapa harus dua anak itu? Kenapa saya harus tinggal di lingkungan ini? Kenapa saya harus pindah ke Bogor? KENAPA?!

Di tengah perang batin yang babak belur, saya ditekan kenyataan bahwa takdir ini sudah berjalan dan sekarang tinggal hadapi, selesaikan sampai takdir itu sendiri yang akan menetapkan akhirnya. Kemudian terjadilah pekerjaan setiap malam saya, Ibuk, dan Tante; mengajari dua gadis kecil itu membaca, mengaji, dan mengerjakan PR.

Kami semua turun tangan, sebab mengajari satu persatu dari mereka harus dengan kekuatan satu kampung! Baru diajari alphabet, satu detik kemudian sudah lupa. Itu baru alphabet, belum angka-angka, hitungan matematika kelas 2 dan 3 SD serta PR sekolah yang tidak secuil pun bisa mereka kerjakan.

Ini kenyataan yang sangat menyayat bahwa ternyata mereka tidak bisa membaca dan berhitung sama sekali. Sudah dua kali tidak naik kelas. Berhasil sampai kelas 2 dan 3 pun lebih karena sekolahnya memang jenis sekolah ajaib yang tidak ikut aturan pemerintah sebagaimana sistem sekolah dasar pada umumnya. Sekolah yang bisa diatur sesuka dengkul kepala sekolahnya.

Beginilah kerja kesabaran. Kami bertiga bukan lagi pernah bicara dengan tegangan tinggi, sampai semua otot menonjol keluar. Tapi sudah sampai marah-marah, teriak-teriak, bukan lagi menghardik lho, namun sudah berteriak macam orang kesetanan acapkali mengajari dua gadis itu. Saya tahu, cara kami menghadapi mereka ini salah. Tapi, tapi ini juga pertama kalinya kami menghadapi anak-anak bebal macam mereka. 😦 Kami belum punya persiapan apapun untuk mendidik anak-anak seperti mereka. Belum lagi kelakuan mereka yang seenaknya dan tanpa aturan di rumah orang.

“Sabar, Nduk… Maklumi, mereka itu kan anak-anak ‘liar’. Ndak pernah dapat bimbingan dari orang tuanya. Ibunya aja stres begitu.” Ibuk selalu mengingatkan.

Berulangkali saya menangis dan meminta Ibuk untuk berhenti mengasuh mereka, serahkan kembali pada Ibunya, atau cari cara apapun bersama tetangga, pokoknya jangan tinggal lagi di rumah ini! Saya capek, kesal, marah, benci. Sampai pada malam ke sekian kami berlima tinggal bersama, pertama kalinya saya tertawa, setelah berbulan-bulan tinggal bersama dua bocah itu; si kakak dan si adik.

“Nih, soal berikutnya. Makanan 4 sehat 5 sempurna itu contohnya apa?” tanya saya kepada si adik. Sekaligus mengetes apakah dia tahu jawaban dari soal-soal di PR-nya yang sebetulnya sudah tersedia di LKS atau buku panduan.

Bola matanya berputar ke atas. Dia sedang berpikir keras hanya untuk menjawab pertanyaan salah satu jenis makanan 4 sehat 5 sempurna.

“Tau nggak? Ini ada lho di buku. Pasti belum dibaca LKS-nya” timpal saya.
“Tau!” serunya bersemangat. Kelihatan percaya diri. Baiklah, ini pertanyaan yang terlalu mudah untuknya, pikir saya. Saya menanti jawabannya.

“Lontong” wajahnya yakin sekali melantangkan jawaban tersebut.

Mengajari Anak-anak Membaca Setiap Malam

Sumpah serapah saya akhirnya berhenti, setelah hampir satu tahun lebih mulai terbiasa dengan kehadiran orang asing di rumah. Makan satu menu, minum bersama dari satu tempat, mandi bergantian, apa yang kami konsumsi dan pakai, mereka konsumsi dan pakai juga.

“Kalau udah besar pingin jadi apa?” Ibuk iseng bertanya sembari duduk di sebelah mereka yang asyik menggambar dan mewarnai. Saya juga duduk berselonjor sambil mengamati gambar dan hasil pewarnaan mereka yang hancur lebur.

“Guru matematika!” seru si adik.
“Aku… pelukis deh” timpal si kakak.
“Kok ‘deh’?” protes saya.
“Ngngng… bingung. Aku suka gambar, suka mewarnai. Pingin jadi pelukis.” Si kakak meringis.
“Sip! Belajar yang rajin yaaa…” saya mengacungkan dua jempol.

Saya tahu, ucapan mereka ini akan terus berubah sepanjang perjalanan usia menuju dewasa. Barangkali mereka pun akan lupa bahwa dulu pernah bercita-cita menjadi guru dan pelukis lalu menertawakan kekonyolan diri sendiri. Nah, di sini saya belajar satu hal lagi. Ingatan anak-anak, ternyata tak selamanya sesederhana itu.

Pada suatu malam, misalnya, ketika saya mengenalkan laptop pada mereka. Mengenalkan internet, memperlihatkan bagaimana mengakses informasi di dunia maya. Memperlihatkan gambar-gambar pemandangan di google, lalu beralih ke jenis-jenis transportasi, sampai akhirnya tiba pada gambar pesawat.

Mereka antusias sekali sewaktu saya bilang kalau dengan kendaraan ini, mereka bisa terbang di langit. Saya tunjukkan lebih banyak gambar pesawat, khususnya pesawat asli buatan Indonesia. Hingga muncullah foto seseorang mengenakan peci hitam dan kaca mata. Saya lewati gambar itu, terus scroll ke bawah, menunjukkan gambar lain yang lebih menarik. Kemudian satu suara menahan saya.

“Itu siapa, Mbak?” tanya si kakak, yang lebih sering penasaran ketimbang adiknya, ke saya.
“Habibie. Bacharuddin Jusuf Habibie”
Alis si kakak berkerut. Mungkin dia penasaran. Saya tanya lagi, “Dia siapa hayo?”
Si kakak menggeleng, si adik juga ikut-ikutan.

Kemudian saya tunjukkan satu persatu gambar Habibie, karya-karyanya, saya bacakan prestasi Habibie dengan kalimat mentah, sebagaimana yang dituliskan di media-media online. Saya tahu, kalimat ini akan sangat sulit mereka cerna, tapi saya tetap membacakan sebagaimana adanya. Setelahnya, baru saya menceritakan ulang dengan bahasa dan gaya bertutur yang bisa mereka pahami secara sederhana.

www.viaberita.com

Saya mendorong mereka berimaji, sebesar apa pesawat yang di dalamnya ada puluhan bahkan ratusan orang, lalu terbang di langit, dan tidak jatuh sama sekali. Saya tidak punya maksud apapun ketika bercerita ini itu, selain alasan supaya mereka tidak menghabiskan waktu dengan bermain tak jelas atau tidur-tiduran saja. Saya selalu lupa bahwa takdir seringkali bekerja tidak terduga.

Sejak malam itu, untuk pertama kalinya, dalam seumur hidup kanak-kanak mereka, nama seseorang dieja pelan dan bertenaga. Mereka belum juga lancar membaca dan menghapal alphabet namun, mulut dua gadis kecil ini sukses menyebutkan, mengeja huruf alfabet pada nama si pembuat N-250 dalam waktu singkat!

Mereka terus mengulang-ulang setiap hurufnya sampai 5 detik kemudian, 10 detik, 1 menit, 5 menit, 10, 15, 20, sampai hampir 1 jam kami masih asyik melihat-lihat gambar Habibie di internet, dan menyebut-nyebut namanya. Bersama setiap hurufnya, mereka menyimpan mimpi yang sangat besar. Ya! Sejak malam itu!

Habibie, Nama yang Paling Diingat 

Sekarang, kabar dua gadis kecil itu sudah jauh lebih baik. Jauuuuh jauh jauh jauh lebih baik. Mereka dikirim Ibuk ke pesantren Qur’an. Begitu disekolahkan di sana, perkembangan belajarnya meningkat pesat! Well, semoga berkah ya. Sampai detik ini, terhitung sudah satu tahun lebih, hampir dua tahun mereka di pesantren.

Beberapa hari lalu, saya berselancar di dunia maya lalu menemukan media online yang memberitakan pameran foto Habibie dan gebyar aneka lomba yang diselenggarakan berbagai komunitas yang tergabung dalam Friend of Mandiri Museum. Pameran ini dibuka untuk umum mulai 24 Juli 2016 hingga 21 Agustus 2016 di Museum Bank Mandiri, Kota Tua, Jakarta Barat.

dev-republika.co.id

Pameran ini melemparkan ingatan saya pada suatu malam bersama dua anak kecil di depan laptop, sibuk mengamati gambar wajah seseorang. Yang setelah itu, nama besarnya disebut jutaan kali.

Di tempat tidur, di dapur, saat makan bersama, di sekolah, di lapangan bermain, di depan kawan-kawan, entah apakah ketika tidur mereka juga menyebut nama itu atau tidak. Rasa-rasanya baru kali ini saya menemukan kenyataan bahwa apa yang saya kenalkan kepada mereka ternyata berhasil direkam dengan sempurna.

Begitu sekarang mereka berdua mulai pandai membaca, mengaji, dan baik perilakunya, saya pikir ingatan itu akan lenyap. Ingatan tentang sosok yang namanya tidak berhenti diucapkan, yang gambar-gambarya demikian dikagumi sampai saya sendiri geleng-geleng kepala. Saya pikir, mereka akan punya mimpi dan imaji baru tentang seseorang atau sesuatu yang mereka sukai.

Saat berkunjung ke pesantren, apa yang saya pikirkan tidak pernah terjadi. Jawaban mereka masih sama seperti tahun lalu; nama itu disebut lagi dengan binar dan perasaan yang sama, meletup-letup bahagia.

Dengan kalimat yang berantakan, si kakak bilang,
“Aku mah nggak bisa bikin pesawat kayak Pak Habibie. Pak Habibie mah pinter banget. Aku pingin rajin belajar kayak Pak Habibie. Nanti bisa ke luar negeri, bisa pinter juga, terus nanti aku ngajarin orang biar pinter juga.”

“Aku juga mau kayak gitu! Kalo aku nanti bikin pesantren. Biar orang-orang bisa belajar di pesantrenku. Aku juga nggak bisa kalau bikin pesawat kayak Pak Habibie. Hihi” si adik menimpali.

Mereka tidak pernah punya akses untuk berinternet ria. Memegang ponsel pun tidak diperkenankan di pesantrennya. Tapi ternyata, obrolan kami pada suatu malam, dua tahun lalu, masih mereka ingat betul.

Bisakah sekarang saya ajak mereka melihat foto-foto itu kembali tanpa perlu membuka laptop? Saya ingin sekali mengajak mereka ke sana. Sekadar menyentuh bingkai fotonya, dan menikmati perjalanan hidup sosok yang selalu disebut namanya itu melalui gambar-gambar yang terlihat lebih nyata ketimbang di dunia maya.

foto-okezone.com

Sepanjang kehidupan kanak-kanaknya, inilah untuk pertama kalinya, mereka punya kenangan singkat tentang ia, yang namanya berhasil membuat mereka bersemangat menjadi pintar, bergegas belajar setiap hari agar terus naik kelas, membangun pesantren, menjadi guru, lalu mengajarkan ilmu dan hal-hal baik pada anak-anak mereka kelak.

Kenangan yang singkat saja, namun belasan tahun ke depan, saya berharap yang singkat di masa lalu akan terus melekat kuat.

Kalau dipikir-pikir, pekerjaan saya setiap malam, tiga tahun lalu, tidak sia-sia juga. Semoga saya masih ada usia sampai kelak, di masa depan, saya bisa menyaksikan mereka berdua menjadi seperti yang sering mereka sebut sewaktu kecil. Membaktikan diri pada Negeri dengan segenap kemampuan terbaik yang mereka miliki.

kisah ini ditulis pada Jumat, 30 Juli 2016, pukul 12:30 PM

5 tanggapan pada “Tugas Baru Tiap Malam: Mengajari Dua Anak Tetangga Membaca

Terima kasih sudah membaca :D Apa pendapatmu?