Law of 33,3%: Konsep Hidup Cerdas Ala Tai Lopez

Ada yang hobi nonton TEDx Talks?

Saya langganan kanal youtube TEDx Talks. Meski tampilan acaranya sesuai judul, Talks, tapi muatannya bukan bualan atau omong kosong. Sewaktu pertama saya kenal program itu dan menonton video di situsnya, saya pikir mereka cuma bicara ide-ide, yang mewah, yang inspirasional, yang mengagumkan, yang beda, yang unik, dan semacamnya. Cuma ide, menyemangati, tapi kemudian apa?

Memang dasar anak kemarin sore, enteng sekali saya menilai. Sampai kemudian ada satu momen di mana saya diskusikan beberapa video Tedx Talks dengan kawan kampus. Oh, ternyata, pembicara yang dipilih untuk tampil di panggung TEDx adalah seseorang yang berhasil menciptakan perubahan besar dan berdampak. Tak hanya bagi lingkungannya. bagi negaranya sendiri, tapi lintas benua alias dunia.

Orang yang mampu memberi pengaruh bagi masyarakat dunia, di sanalah ia berdiri. Di panggung TEDx Talks yang isinya bicara, talks, mempresentasikan hasil pikiran yang tak hanya membawa hal-hal segar bagi penontonnya, tapi juga perubahan nyata yang dirasakan melalui gagasan-gagasannya.

tailopez.com

Siapa Tai Lopez?

Investor, pengusaha, sekaligus penulis. Kalau bicara Lopez, yang saya ingat pertama adalah film Pursuit of Happiness. Kisah nyata tentang seorang pengusaha miskin. Kira-kira nasib Lopez sama dengan Chris Gardner yang diperankan Will Smith di film tersebut.

Lopez mengawali karir dengan status kantong kering alias bokek. Lalu dia berjuang mengubah hidupnya menjadi seorang investor hingga menemukan sebuah hukum bernama Law of 33,3%.

Tulisan saya ini, selain dari TEDx Talks sesinya Tai Lopez, juga dibuat karena tergerak oleh status Facebook Annisa Hasanah, senior di kampus, yang ternyata terkesan pula oleh Mr Lopez ini. Senior saya itu, kalau tidak salah, sempat hadir di acara TEDx Talksnya (?)

Oh, Tuhan, saya dengki.

Arti Law of 33,3% 

Lopez punya teori bagaimana cara bergaul dalam hidup. Ada tiga waktu yang harus dibagi agar gaulnya kita bukan sekadar bertemu orang, mengobrol, bersenang-senang, berbisnis, bergosip, apalagi nyinyir. Bukan itu saja lingkaran pergaulan yang harus kita bentuk.

Caranya, 100% : 3 = 33,3%.

33,3% untuk orang yang berada di bawah kita. Di bawah maksudnya dari segi keilmuan, pengalaman, kekayaan, pokoknya dari semua level kehidupan kita, orang-orang ini tidak berada setara atau di atas kita, tapi di bawah. Misalnya, junior di sekolah, kampus, tempat kerja. Cuma sekarang junior banyak juga ya yang lebih jago dari seniornya. Yaa, bagian ini kita bisa menilai sendiri lah, ciri-ciri orang yang posisinya di bawah kita.

33,3% untuk orang yang setara dengan kita. Kira-kira dari semua hal, orang-orang ini sama dengan kita levelnya. Kapasitas ilmunya sama, kekayaannya tak jauh beda, prestasinya sebanding, pengalaman hidupnya tak melampaui pengalaman yang juga kita punya.

33,3% untuk orang yang berada di atas kita. Posisinya mesti jauh di atas kita. Bisa dalam hal apa saja; ilmu, kekayaan, pengalaman, pencapaian, kesuksesan, karir, dll. Boleh kita masukkan tokoh-tokoh besar ke dalam lingkaran pergaulan ketiga ini.

Your Life is Your Design; Merancang Lingkungan Pergaulan

Saya termasuk orang yang menganut paham let your life flow like a river setengah. Lalu setengahnya lagi harus didesain agar hidup saya berstandar emang cuma barang eksport import doang yang ada standarnya. Saya sengaja menyisihkan sebagian hidup yang dibiarkan mengalir itu agar saya tidak mudah kecewa dan lelah. Sebab ada kalanya saya tidak perlu mendesain apa pun, cukup menikmatinya sambil minum teh manis hangat, makan mie rebus, dan nonton drama.

Sedangkan sebagiannya lagi, saya rancang dan atur strateginya secara saksama. Sebagian inilah yang saya perhitungkan agar hasilnya sesuai dengan rancangan desain yang dibuat. Termasuk soal lingkungan pergaulan, saya masukkan ke kotak desain, something that must be designed. Sampai pada momentum presentasi Lopez di TEDx Talks, akhirnya saya menemukan definisi dan penjabaran secara terstrukturnya.

Menurut Lopez, pada tiga pembagian porsi pergaulan tersebut, posisi nomor satu menjadi kewajiban. Sebab kita punya tanggung jawab membagikan ilmu dan pengalaman yang kita punya kepada orang yang membutuhkan.

Nahnu du’at qobla kulli syai’ (kita adalah dai sebelum apa pun). Tugas dai dan penciptaan manusia secara umum di dunia adalah menyampaikan kebaikan meski hanya satu ayat. Artinya, meski hal kecil, selama itu baik, wajib disampaikan, harus diinformasikan. Khoirunnas anfa’uhum linnas (sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain).

Posisi nomor dua adalah posisi paling nyaman. Sebab, bersama kawan atau lingkungan yang setara, kita berada pada zona nyaman dan cenderung melenakan. Pada lingkungan ini, kita mesti hati-hati. Jangan di sini terus, lalu lupa ada nomor satu dan tiga.

medium.com

Posisi nomor tiga ini yang lumayan berat. Bergaul dengan orang yang level hidupnya jauh di atas kita. Wajar bila kemudian merasa tidak nyaman, sungkan, malu, dan segenap perasaan inferior lainnya. Bayangkan, kita yang orang biasa berkesempatan (atau lebih tepatnya nekat) ketemu tokoh besar yang punya pengaruh positif terhadap orang banyak. Berhadapan langsung secara personal dan privat. Berdiskusi atau mendengar ilmu dan wejangan dari tokoh tersebut.

Artis, profesor, pengusaha, politisi, dan tokoh lainnya yang berdampak atau punya kontribusi besar terhadap perubahan bagi masyarakat luas. Kira-kira bagaimana perasaanmu?

“Wah gila sih ini. Selama ini gue ngapain aja ya? Kok gue gini amat ya? Nggak ada pencapaian apa-apa. Masa muda gue selama ini dihabisin buat apaan aja sih? Kok kayaknya nothingless banget. Hiks”

Di situlah menariknya. Pada pergaulan nomor tiga, kita akan belajar dan berkembang. Seringkali orang-orang pada nomor tiga itu sulit kita temui atau kalau pun bisa, seringkali kita berasumsi bahwa orang sukses itu biasanya sombong atau tidak mau bergaul dengan orang-orang yang ada di bawahnya seperti kita.

Namun, dari yang pernah saya alami ketika bertemu dengan tokoh besar, justru mereka sangat mengapresiasi perjuangan orang-orang di bawah mereka dan kadang kala memberi masukan. Sebab mereka sadar, dulu mereka pun pernah berada di posisi bawah, di posisi kita. Betul sekali peribahasa semakin tinggi padi, semakin merunduk.

Makin sukses seseorang, makin bersinar namanya, kalau betulan dia membangun kesuksesan itu segenap hati dari nol, insyaa Allah tidak akan sombong. Jutsru orang-orang begini rendah hatinya luar biasa. Oh, saya pernah menulis soal ciri-ciri orang yang levelnya di atas begini.

Kalau perkara sulit ditemuinya orang-orang nomor tiga ini, berarti kita harus gempur terus sampai bisa. Lho, Tai Lopez sendiri sudah mengirim email puluhan kali ke Elon Musk, sampai akhirnya dibalas dan diajak makan bersama!

Masak sih kita nggak bisa kayak gitu juga?
Sudahlah, jangan buru-buru beralasan ini itu.

Mending coba dulu sampai bisa 😀

29 tanggapan pada “Law of 33,3%: Konsep Hidup Cerdas Ala Tai Lopez

  • Konsep hidupnya keren ya, 33% untuk orang yang standar hidupnya di bawah kita (tujuannya agar kita sesekali menundukkan pandangan), 33% bergaul dengan orang yang setara agar lebih berkembang hidupnya dan berpacu dengan prestasinya, dan 33% dengan orang yang standarnya di atas kita agar kita nggak mudah sombong jadi orang.




    0
    • iyaa betuul. Biasanya tokoh besar yang karirnya bener-bener dari bawah, punya pemahaman hidup yang keren. Konsep hidup dia ini sangat universal dan bisa diterapkan oleh siapa saja di mana saja.




      0
  • noted niiih.
    GAK BOLEH SOMBONG. itu yaaah intinya.
    emang siih, kadang kita gak sadar aja gitu dengan apa yg terjadi ama diri kita, yaa kembali lagi, kontrolnya harus di diri sendiri 🙂




    0
  • Pertama kenal dengan tulisan mba Sekar tentang mitigasi.
    Aku langsung, katakanlah, “meleleh”
    Meski tulisannya agak “berat” namun herannya aku terpikat dan terjerat
    Jarang lho ada yang punya keahlian seperti itu.
    Biasanya sering terasa “membosankan”

    Nah, tulisan kali ini, masya Allah semakin “berisi.”
    Jadi, jangan salahkan jika aku semakin jatuh hati
    Terlanjur…main hati

    Jadi, kira-kira kapan kita ya bisa ngopi bareng Mas Tai?
    Ntar aku nyumbang kopi




    0
  • menghabiskan waktu dengan orang-orang yang dibawah kita itu yg seringnya terlewatkan yaa.. biasanya kita sibuk mencari ilmu di orang2 yg lebih pinter, lebih mapan, atau bergaul dg teman2 satu frekuensi. bagus banget nih hukum 33,3%, aku tertarik buat nyoba 🙂




    0
  • mbaa tulisannya keren banget… kebetulan aku sudah menerapkan ilmu thai lopez itu..walau sebelumnya engga pake rumus hehe…mba, ini aku yola widya yah..karena kebetulan ada akun WP jadinya profil itu yg muncul di sini




    0
  • Mba, aku baru tahu ada program ini ala tai lopez. Keren nih kalo kisah hidupnya kayak film yang diperankan WIll Smith itu. Dan memang benar kalau dibangun dengan penuh cinta insyaAllah tak akan sombong




    0
  • Bener banget semakin tinggi padi, semakin merunduk. Aku tau beberapa orang sukses yang bener-bener berjuand dari bawah dan memang mereka rata-rata gak sombong, suka berbagi bahkan memberi dengan semudah itu.




    0
  • Sukak dengan hukum 33.3% ini. Keren banget. Dalam kehidupan nyata menurut bunda biasanya agar semua sukses Posisi 3 dengan rendah hati sesuai pribahasa tentang padi Semakin berisi semakin merunduk. Membuka hati dan mengulurkan tangan kpd mereka yg berada di posisi 2(posisi nyaman) Begitu juga mereka yg berada di posisi nyaman menyambut hangat mereka yg ada di posisi satu sehingga ada keselarasan, kesuksesan dan kebersamaan bisa dicapai. Setiap individu secara sadar atau tidak akan memiliki percaya diri yg kuat dan merasa dihargai.
    Do something for the people having less skill than you. Share your knowledge than you’ll be somebody.




    0
  • Baru tahu juga konsepnya Tai Lopez ini, Mbak. Konsep 33,3% menarik banget. Btw, bicara sukses memang butuh perjuangan dan sikap mental yang luar biasa baja, hehe. Orang sukses, biasanya karena tekun dan sabar. Nice sharing, Mbak…




    0



    0
  • Langsung sadar…
    Seberapa banyak waktu yang aku luangkan untuk merancang hidupku sendiri.

    Karena orientasiku adalah keluarga makin mengkerucut, harusnya ke perbaikan diriku sendiri yaa…
    MashaAllah~

    Barakallahu fiik tulisannya memotivasi banget…




    0
  • Alhamdulillah aku punya ketiga teman itu mba, yang no3 yang di atas kita itu aku segmenkan ke pejabat daerah.
    ketiga teman bergaul itu memang kentara sekali perbedaannya, dan pada dasarnya saya suka sekali berteman dari ketiganya masyAllah senang dan konsep hidup cerdas Lopez bener keren




    0
  • memang dalam hidup itu diri kita adalah pengendali bagi diri kita ya, seperti kondisi stres dll meski butuh bantuan oranglain, tetap kita adalah pengontrol diri kita sendiri yang utama. termasuk kontro jangan boros nih tahun 2019 wkwkkw




    0
  • Iya bener banget, untuk bisa masuk ke lingkaran pergaulan kategori ketiga itu berat banget. Yang paling berat adalah menyingkirkan rasa minder tadi. Berasa kayak keset kamar mandi gitu kalau berhadapan dengan orang2 pada kategori tersebut.




    0
  • Wah ternyata sarannya bisa dibagi seperti itu yaa. Tapi bener juga sih seimbang hidup, bergaul ma yg setara, di bawah, di atas, supaya bisa luwes kehidupan sosialnya.




    0

Terima kasih sudah membaca :D Apa pendapatmu?