Inner Child dan Terapi Menulis Selama Belasan Tahun

Pascaperceraian orangtua saat usia saya 13 tahun, Ibuk membawa saya meninggalkan Kota Semarang bersama seluruh kenangan yang tak banyak saya ingat kecuali permainan anak era 90-an, larangan main keluar rumah, bentakan, pukulan, sundutan rokok, sabetan ikat pinggang, tamparan, larangan menangis bersuara, dan larangan mengeluh.

Rasa-rasanya lebih banyak porsi ingatan menyedihkan daripada menggembirakan. Tak apalah. Toh sejak pindah ke kota lain, hidup saya jadi lebih baik. Jauh lebih baik, meski kami (saya dan Ibuk) terseok-seok membenahi mental, fisik, dan keuangan agar siap menatap masa depan dan melangkah percaya diri.

Mengusir Ingatan Tentang Bapak

Masa kecil saya pada usia emas adalah masa-masa paling mengenaskan (bila tidak bisa dibilang sangat menyedihkan). Mulai dari sibuk berobat sepekan sekali, menghadapi bullying selama enam tahun dari kawan-kawan sekelas di sekolah, menahan sakit dihajar Bapak hampir setiap hari, dan banyak lagi.

Semua yang ada pada rentang usia 0 – 13 tahun, nampaknya betul-betul masa terburuk saya dalam hidup. Pertama kali mengingat bagaimana masa kecil saya habiskan, saya menangis.

Saya kaget terhadap respon yang keluar pertama saat itu. Mengapa saya tidak merasa bahagia mengenang usia TK hingga SMP? Mengapa saya sedih sekali? Mengapa perasaan kesal dan benci yang justru muncul?

Foto Ibuk dan Bapak menggendong saya saat usia dua bulan di rumah pertama kami.

Siklus ini terus berulang. Saya biarkan saja sampai akhirnya saya merasa ada kemarahan dan kekecewaan yang terlalu lama dipendam, sudah mengerak, harus dibersihkan, tapi tak tahu bagaimana cara mengatasinya. Dari mana memulainya? Dengan cara apa saya bisa hapus ingatan ini?

Apa saya perlu hilangkan saja kosakata bapak dari dalam kepala? Sebab bila saya mengingatnya, hanya luka dan aroma kebencian yang timbul pertama.

Ibuk bilang, “Meskipun demikian, kamu tetap anak Bapak. Ketakwaanmu kepada Allah adalah baktimu terhadap orangtua, tak hanya Ibuk, tapi juga Bapak. Bapak bukan Allah hadirkan hanya agar anak perempuannya bisa menikah sesuai syariat Islam (maksudnya ada wali sah yakni ayah kandung).”

“Bapak ada dalam hidupmu juga supaya kamu jadi anak perempuan yang kuat. Anak perempuan yang walaupun masa kecilnya sudah melewati demikian banyak kesulitan, ia berhasil tumbuh menjadi muslimah yang baik.”

“Buktinya apa kamu anak yang kuat? Kamu bisa melangkah sejauh ini melewati 13 tahun yang mengerikan, menjadi dirimu yang sekarang, selalu bisa mengontrol diri, ndak pernah moody-an, pendidikanmu bagus, punya teman dan lingkungan pergaulan yang baik. Itu prestasi, Nduk. Bukti bahwa kamu kuat.”

“Masalahmu cuma satu: sulit memaafkan,” timpal Ibuk. Saya hanya diam sembari mengusap pipi yang basah.

Menyuarakan Isi Hati dan Pikiran Lewat Cerita Fiksi

Lalu saya menulis catatan. Mungkin boleh disebut buku harian meski saya tidak menganggapnya demikian. Sebab di buku itu ada juga catatan pelajaran. Saya tulis semua perasaan saya di sana, bercampur dengan rumus matematika, ringkasan tugas biologi, hitungan fisika, dll. Meski tidak rutin setiap hari menulis, rasanya cukup melegakan karena sekarang saya punya teman bicara.

Buku harian sejak SD sampai kuliah

Setelah buku harian, saya mulai pakai laptop. Untuk ukuran anak kelas 11 SMA usia 16 tahun pada 2009 saat itu, laptop adalah barang mewah. Amat mewah. Belum ramai juga orang-orang (di Indonesia) pakai laptop (nampaknya begitu, kecuali di Ibukota mungkin dan tenaga pendidik seperti dosen), apalagi anak sekolah. Beruntung sekali saya dapat gratis dari saudara. Laptopnya masih mulus.

Setiap malam, saya ketik apa saja yang ada di kepala dalam bentuk puisi dan cerpen. Saya simpan rapat semua yang berhubungan dengan masa lalu dan hanya menuangkan kegelisahan beserta kemarahan dalam bentuk cerita fiksi.

Hal terakhir tentang curhat yang saya ingat betul dan membekas adalah pengkhianatan sahabat. Dia menyebarkan masalah yang menimpa orangtua saya ke teman-teman sekolah. Sejak saat itu, saya menutup diri. Saya berjanji kepada diri sendiri, selepas pindah tempat tinggal, saya tidak akan pernah mau menceritakan apa pun tentang diri saya kepada siapa pun. Tidak akan pernah, meski hanya untuk menjawab pertanyaan soal kabar.

Jadilah saya hanya bisa mengarang cerita fiksi agar saya tidak perlu menceritakan kisah yang sesungguhnya. Tokohnya hampir selalu saya buat murung, dirundung kemarahan dan kekecewaan sebagaimana yang dialami penulisnya. Demikianlah cara saya curhat.

Sampai pada 2010, saya berkenalan dengan blog. Tulisan yang awalnya hanya disimpan dalam folder laptop, akhirnya berani saya unggah di blog. Keberanian yang muncul karena saya ingin punya teman berbagi tanpa perlu bertatap muka, tanpa perlu susah-susah bicara.

Setelah beberapa bulan rajin mengunggah tulisan, tak disangka, ternyata banyak sekali impresi positif yang saya rasakan.

Sembilan Tahun Menulis Blog, Dapat Apa?

Seorang dokter yang kala itu memeriksa kondisi BJ Habibie setelah meninggalnya Ainun, menyarankan satu terapi untuk mengobati rasa gelisah dan kesedihan. Maka jadilah sebuah buku berjudul Habibie Ainun.

Writing is breathing and healing. Writing will organize your mind to be more structured. Not only other people or the readers, but yourself will understand the anxiety and pain that has unconsciously appeared through body language and physical illness. So you can resolve your problem more easy.

Serupa tapi tak sama. Saya melakukan terapi bukan dengan menulis buku, tapi blog. Melalui blog, saya menemukan dua aktivitas asyik, yakni menulis sekaligus bicara dengan orang lain. Saya butuh teman untuk sekadar mendengar cerita saya. Teman yang barangkali punya masalah serupa atau jauh lebih menyakitkan.

Dan memang luka yang saya derita tidak lebih besar, perih, dan dalam dari luka yang Ibuk rasakan. Tentu Ibuk mengalami guncangan yang lebih bertubi-tubi lagi. Ibuk kehilangan kakak dan adik saya. Kehilangan yang sangat memilukan. Surga untukmu, Buk. Surga yang luas dan indah bagi kesabaranmu.

Menulis setiap malam, entah itu cerita fiksi atau puisi di laptop bersejarah.

Dan benar saja. Rutin menulis blog pada akhirnya membuat saya berkenalan dengan beberapa orang baru. Ada yang sampai bertatap muka. Ada yang tidak, tapi kami selalu saling menyemangati meski hanya lewat kolom komentar. Ya, akhirnya saya dapat banyak kawan yang beberapa di antaranya punya masa lalu pahit. Dari blog, saya tahu bahwa saya tidak sendiri. Bukan hanya saya yang pernah terluka.

Saya juga menemukan motivasi melalui aktivitas blogging. Saya jalan-jalan ke blog orang lain, namanya Blog Walking (BW) dan mendapati banyak sekali cerita seru dari para narablog. Awalnya, saya pikir blog hanya digunakan untuk curhat atau mengunggah tulisan fiksi, tapi ternyata ada beragam konten menarik yang bisa dipublikasi.

Ada tentang perjalanan (rekreasi), kuliner, parenting, termasuk ada pula yang bercerita mengenai masa lalu buruk agar dapat diambil pelajaran baiknya. Apa yang mereka tulis, apa yang mereka ungkapkan, sungguh membuat saya jadi lebih banyak bersyukur dan turut mengambil nilai baiknya.

Blog dan Upaya Berdamai Dengan Inner Child

Setiap orang punya inner child atau ingatan masa kecil yang baik maupun buruk. Inner child mungkin ada yang tidak bisa hilang total, tapi dapat diminimalisir dominasinya. Inner child seringkali jadi ketakutan tersendiri bagi para orangtua dalam hal pola asuh anak. Mereka takut kesalahan yang sama terulang.

Beberapa cara untuk menyembuhkannya adalah dengan berani mengakui, berani mengungkapkan, berani memaafkan, dan berani melangkah ke depan.

Jawa Tengah, 1993

Saran dokter kepada BJ Habibie, benar adanya. Meski bukan berupa buku seperti BJ Habibie, aktivitas menulis itu sendiri berhasil membantu saya menghadapi inner child. Menulis membuat pikiran-pikiran saya menjadi lebih terstruktur, kemarahan dan kegelisahan saya yang abstrak menjadi lebih terdefinisikan dan terurai satu per satu. Saya jauh lebih tenang dan nyaman.

Melalui blog, apalagi pada masa-masa sekarang, akan sangat memudahkan saya untuk dapat banyak kawan baru, cerita baru, pengalaman baru, lingkungan baru, dan perspektif baru dengan cepat. Dan segala sesuatu yang baru, akan sangat membantu saya untuk terus maju, tak berlama-lama menengok ke belakang, dan tak melulu meratapi masa lalu.

Semakin bertambahnya usia, semakin melajunya pergerakan zaman ke dominasi milenial, saya pun belajar untuk menulis beragam jenis tulisan. Tak hanya fiksi saja, tapi juga belajar menulis tulisan populer dengan gaya bahasa asyik. Oh, saya bisa belajar dapat uang juga ternyata dengan menjadi narablog. Hahahaha 😀

Lihat? Selain motivasi dan kawan baru, menjadi narablog juga semakin menambah wawasan kepenulisan saya. Menulis blog membuat saya lebih berani mengungkapkan kejujuran dalam sebuah tulisan. Lebih berani membagikan cerita ini agar orang lain dapat ikut mengambil pelajaran baiknya.

Apalagi era digital sekarang merupakan eranya beragam informasi mudah diakses semua kalangan. Mudah pula ragam informasi yang entah baik atau buruk itu memengaruhi pikiran orang. Dan saya memilih menjadi narablog yang membawa pengaruh baik.

2019, Waktunya Menata Hati

Tak mulul-muluk, pada hari-hari yang baru di 2019, saya berharap bisa menghabiskannya dengan produktivitas. Allah limpahkan kesehatan agar saya bisa terus menulis dan Ibuk bisa terus mendampingi. Menulis blog setiap hari, menyelesaikan novel yang tertunda bertahun-tahun, dan membangun perpustakaan yang di dalamnya ada kelas menulis untuk siapa saja, untuk semua usia.

Pada hari-hari yang baru ini pula, saya punya satu target paling besar di antara semua target yang isinya tak jauh-jauh dari karir/pekerjaan dan prestasi menulis: keberanian memaafkan.

Dan dengan menulis, saya seolah menempatkan seluruh emosi dan pengalaman dalam sebuah bingkai, seperti meletakkan foto diri saya sendiri dalam sebuah pigura. Saat itulah saya bisa melihat dengan jelas masalah apa yang sebenarnya sedang saya hadapi secara proporsional kemudian menganalisisnya.

Menulis memberi jarak antara diri saya dengan masalah yang sedang saya hadapi. Oleh sebab itulah, seluruh peristiwa/pengalaman bisa dilihat lagi dengan jelas dan lebih objektif. Dengan mengambil jarak inilah, proses perenungan dan penyembuhan berlangsung.

Surat dari kawan Ibuk yang diberikan jauh sebelum Ibuk menikah. Pesannya sungguh menguatkan dan membantu kami untuk bertahan dan terus melanjutkan hidup.

84 tanggapan pada “Inner Child dan Terapi Menulis Selama Belasan Tahun

  • Mbak Sekaar, terima kasih sudah berbagi cerita ini. Semoga Allah lapangkan selalu hatinya ya mbak, salut sama mbk dan Ibuk. dan semoga Ibuknya sehat selalu. :’)

    mudah-mudahan apa yg dicitakan tercapai di thn 2019 ini ya mbak..




    0
    • Aamiin Yaa Allah Yaa Muujiibassailiin. Terima kasih, Mbak Ikha :”) Doa baik yang sama juga untuk Mbak Ikha.

      Mbak, tulisan Mbak Ikha yang hujan-hujan kok bagus-bagus tho?
      Makan pake lauk apa Mbak kok bisa begitu tulisannya? ^^”




      0
    • Aamiin. Wa fiik baarakallah bosquee!! Semangat juga jadi calon konsultan keuangan ternama di Indonesia! 😀

      Kapan membogor atau menjakarta? Mau berguru soal manajemen keuangan aqutu.
      Buku darimu amat sangat bermanfaat!!! Jaazakillah, Dinda.




      0
    • Aamiin Allahumma Aamiin. Doa kebaikan juga untuk Mas Nodi 🙂 Terima kasih atas momennya ya Mas. Semoga Allah berkahi langkah kita tahun ini untuk mewujudkan doa-doa yang dipinta dan impian yang ditulis.




      0
  • Inner child ini memang jadi momok ya. Ketika sudah jadi ortu pun inner child menjelma sebagai tantangan terberat pengasuhan. Salut sama Sekar yang sudah berusaha melaluinya dengan baik. Barokallahu fiik Sekar…

    Oya, Sekar udah pernah coba terapi writing for healing nggak?




    0
    • Ada terapi khususnya Mbak? Wah baru tau. Saya nggak pernah nyari haha. Selama ini coba disembuhin sendiri aja. Nggak sampai mengganggu, Alhamdulillah. Cuma, susah sih memang menghilangkan kemarahan dan kekecewaan kalau ingat yang lalu-lalu. Makanya itu saya jadikan resolusi terbesar tahun ini.

      Saya bisa dapat info tentang writing for healing di mana Mbak? Ada lembaganya gitu?




      0
  • Barakallah mbak sekar, terimakasih sudah menulis ini. Membaca perjuangan ibuk mbak sekar jadi teringat ibu di rumah yang sama2 mengurusi anak2nya seorang diri sejak ayah wafat. Semoga sehat dan selalu dilimpahi keberkahan utk mbak sekar dan ibuk mbak sekar😀




    0
    • wa fiik baarakallahu Mbak Lillah. Terima kasih kembali sudah bersedia membaca tulisan ini. Ibu kita memang strong ya mbak, mandiri, dan panutan banget buat anak-anaknya. Aamiin insyaa Allah doa baik yang sama juga untuk mbak, ibu, dan keluarga. Semoga kesabaran Ibu berbuah surga terindah 🙂




      0
    • Aamiin Ya Robb. Terima kasih Mbak Keke. Iya, susah banget. Semoga saya dan kita berhasil melapangkan hati atas kesalahan dan sakit hati di masa lalu ataupun masa yang akan datang. 🙂




      0
  • Sedih aku bacanya.. Ya Allah. Banyak yang sudah membuktikan menulis bisa sebagai terapi healing. Semoga Mbak Sekar dan Ibu selalu dalam keadaan sehat walafiat ya. Ibu hebat banget ya dalam memberikan pengertian tentang arti seorang bapak dalam kehidupan anaknya. Keep strong ya




    0
    • Aamiin. Doa baik juga untuk Mbak Rani. Insyaa Allah mbak hehe. Nggak sampai mengganggu aktivitas alhamdulillah. Sejak pindah rumah udah bahagia haha. Cuma masih sulit memaafkan aja.




      0
  • Huaaaa, berani mengungkapkan Inner Child itu sesuatu banget, karena pasti menulisnya ini dengan segenap jiwa. Peluuuukkk.
    Memaafkan itu sesuatu yang mudah diucapkanntapi mungkin sebagian orang tidak mudah mengaplikasikannya. Huufft, saya pun kadang masih susah memaafkan apalagi menyangkut masa lalu. Yaaah, tiap orang punya masa lalunya masing-masing.

    Ayook, keep fighting. Jalan masih panjang 🙂




    0
    • Sebetulnya belum diungkapkan semua, tapi segini aja udah maju mundur dan banyak banget pertimbangan ^^” Pas banget ada momentumnya, yaudah cerita aja. Semoga bisa sedikit meringankan karena sudah dituliskan kemarahan yang dipendam. Insyaa Allah semangat dan bahagia selaluuu!! 😀




      0
    • Tapi kayaknya dulu segmented ya yang punya buku ini hahaha. Kalangan anak rohis dan yang ceritanya lagi hijrah gitu 😀 Sekarang udah nggak ada lagi diary bagus kayak gini 🙁




      0
  • Mbak sekaar.. peluk dulu yaa.. aku juga produk broken home, setelah papa mama pisah baru perjuanganku dimulai. Alhamdulillah akhirnya bisa berdamai dg luka masa lalu, tapi aku masih belum berani menuangkan bekas lukaku dalam blog, aku masih memilih menyimpannya sendiri. Aku salut sama mba sekar yg bisa melepaskan semuanya dalam tulisan, semangat terus ya mba 🙂




    0
    • Terima kasih sudah bersedia baca cerita saya ya Mbak Yoanna. Hebaaaat Mbak kalau sudah bisa berdamai karena saya masih kesulitan sampai detik ini. Nggak apa-apa kalau memang belum siap dan nggak bisa ditulis karena hukumnya nggak wajib, hehe. Itu salah satu cara aja. Insyaa Allah masih ada banyak cara baik lainnya yang bisa kita coba. Cara apa pun baik dan bagus kalau berhasil menyembuhkan luka meski harus lewat proses yang panjang.

      Mbak juga ya, semangat dan jangan lupa bahagia selaluu 🙂




      0
  • Berdamai dengan inner child memang penting banget untuk bisa menata hidup yg sekarang. Beruntungnya mbak Sekar bisa melepas beban dalam bentuk tulisan, sekarang malah manfaatnya bertambah ya mba, dapat ilmu dan teman baru juga. Memang Allah selalu punya cara yg luar biasa buat menolong kita.




    0
    • Alhmdulillah. Bersyukur sekali karena Allah bantu saya untuk beranikan diri. Menulis di blog ini salah satu cara yang semoga bisa jadi perantara baik untuk sembuhkan luka.




      0
  • Ternyata Mbak Sekar pernah tinggal di Semarang ya? Kalau aku sejak kelas 3 SD suka nulis apa saja yang dialami di buku harian. Btw, semangat menulisku bertambah nih setelah baca postingan ini.




    0
  • Ya Allah mbk, sedih banget bacanya :(, kok ada ya bapak sejahat itu :(. Alhamdulillah akhirnya mbk bisa menemukan ruang, teman untuk sharing, yaitu menulis di blog. Setidaknya ingatan masa lalu yang buruk tidak terus menerus menghantui.

    Semangat ya mbk, semoga Allah memudahkan segala urusan




    0
    • Iya, saya juga heran kok bisa ada bapak model begitu hahaha. #ups

      Alhamdulillah blog ini memang obat penawar banget, hehe. Bisa nulis sekaligus sharing dan dapat teman pula. Makasih mbak sudah baca cerita ini. Aamiin insyaa Allah, doa yang sama juga buat Mbak 🙂




      0
  • Mba Sekar, terimakasih untuk keberanian berbagi, ikut senang dengan berlalunya kisah sedih itu, dan teruslah memotivasi diri untuk mudah dan berani memaafkan siapapun>
    Salam buat ibunda yang hebat ya, yang kuat dan dalam kesedihan masih mampu memotivasi anaknya




    0
    • Terima kasih kembali Mbak sudah baca cerita saya. Insyaa Allah siaap untuk melakukan perubahan dan berani memulai segala hal baru agar saya nggak lagi sedih saat ingat masa lalu.

      Salam kembali dari Ibuk 🙂




      0
  • Sekar, memaafkan memang sulit, tapi insyaa Allah bisa meringankan hati kamu. Membebaskan diri kita dari peristiwa pahit juga, agar tidak terus membelenggu hatimu.

    Semoga Sekar diberikan hari-hari yang lebih indah, semangat yaaa…keep strong 😊




    0
    • Aamiin, terima kasih Mbaaak :”) Iya nih, perlu usaha ekstra, maka kujadikan resolusi utama untuk tahun ini. Semoga berhasil dan dimudahkan prosesnya.




      0
  • Pengen ketemuuu..
    Pengen melukkkk..
    Masha Alllaaaahh…
    Makasih banyak sudah mau berbagi kisah ini kepada kami mba.
    Saya jadi merasa jauh lebih baik mengenang masa kecil saya.

    Masa kecil saya juga bisa dikatakan hampir sama, bedanya bapak tidak pernah menampar saya, eh pernah sih sekali, tapi di luar itu beliau memukul saya di pagian betis saja.
    Bentakan, ancaman juga sering saya terima, tapi di lain waktu bapak mengajak kami bercanda, yang masih setia menggendong saya ketika saya sakit hingga saya sudah besar.

    Dan memang benar, menulis itu terapi yang amat sangat baik dan mudah.
    Dengan berani menuliskan kisah saya , lalu membaca kisah orang yang sama, perlahan namun pasti saya mulai bisa sedikit demi sedikit memaafkan dan berdamai dengan masa lalu.
    Itu yang membuat saya jadi mengingat semua kenangan hangat kami bersama bapak

    Dan saya berkejaran dengan waktu untuk berdamai dengan masa lalu, karena hal tersebut amat sangat berpengaruh pada kehidupan saya, di pernikahan saya, dalam mengasuh anak-anak saya juga.

    semangat selalu ya mbaa, semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan dan kedamaian kepada mbak dan ibunya, aamiin 🙂




    0
    • Mbak, terima kasih juga sudah bersedia baca cerita saya T_T Berarti betul ya mbak kalau inner child itu “momok” buat kita sebagai orangtua dalam hal cara mengasuh anak. Nggak mau kejadian yang sama terulang. Sebab sudah masuk ke alam bawah sadar, mengendap, dan berdiam di sana bertahun-tahun. Tentu perlu usaha keras untuk berdamai.

      Bapak saya juga gendong, ngasuh, dan melakukan hal-hal wajar sebagaimana seorang Bapak. Cuma itu semua bagi saya biasa aja dan nggak mewakili apa pun yang menampakkan bahwa beliau sayang sama saya dan Ibuk. Yang saya rasakan, Bapak melakukan itu hanya rutinitas dan formalitas aja. Nggak betul-betul sayang dengan keluarga. Jahat iya.

      Insyaa Allah, Allah akan mudahkan usaha kita ya mbak. Mbak juga, semoga kebahagiaan dan ketenangan senantiasa Allah limpahkan kepada Mbak dan keluarga. :”)




      0
  • Saya pernah baca kisah pak BJ. Habibie yg menyalurkan rasa kesedihannya pasca ditinggal Bu Ainun melalui media tulis menulis. Memang menulis bagus untuk terapi atau sebagai media untuk membantu mengeluarkan segala perasaan dan pikiran yang tidak bisa diungkapkan pada orang lain.




    0
    • Iya betuuul. Nulis memang nyenengin dan ya meski nggak kemudian 100% sembuh (tetep harus lewat serangkaian proses dan tahapan ikhtiar panjang) tapi menulis amat sangat membantu. Alhamdulillah




      0
  • Wouu suratnya masih ada yah mba, di simpan gitu, kereen.

    Soal menulis ini saya pun merasakan yang sama. Menulis seperti terapi dan obat jiwa. Alhamdulillah saya merasa lebih baik ketika menulis. Mudah2an di 2019 ini jauh lebih baik dari sebelumnya 😊




    0
  • aku kok betah ya baca ini sampai habis. dari sekian kata malahan aku masih pengen terus baca. kayanya ga pengen tulisan ini berhenti pada akhir kalimat.

    emang aku akui, tidak banyak orang yg bisa menceritakan pengalaman pahit sewaktu kecil. ada sekat dan dinding yg tidak mau diketahui orang banyak. begitupun aku. masih tidak ingin cerita kecil diketahui orang lain. biar aku saja yg tahu. walau sekian lama memendam justru banyak pikiran2 yang berputar2 dikepala.

    salut deh buat mba sekar yg berani ceritakan masa lalu yg pahit. tetap semangat ya…




    0
    • Makasih ya Mbak Lita sudah bersedia baca. Senang sekali rasanya. Ini pas ada momentumnya aja Mbak karena aku butuh menuliskan semua isi kepala agar ada jeda untuk merenungi kembali semua masa lalu dan kemudian belajar memaafkan. Jadi resolusi tahun in juga soalnya hehe. Doakan semua lancar dan dimudahkan ya mbak 😀




      0
  • Sebagai ibu saya justru meneteskan air mata melihat bayi ysng dipangku penuh kasih oleh ibu bapakmu. Peluk dari jauh yaaa, jadi semakin ingin menjaga anak anakku dari rasa sakit yang bisa merasuk dalam memorinys. Semoga kini bahagia terus Sekar, aamiin




    0
    • Aamiin Ya Robb. Terima kasih Bu Eniii :”) Peristiwa yang paling banyak diingat seseorang sampai alam bawah sadar adalah peristiwa saat usia emasnya. Kalau saya nggak salah ingat hehe. Mudah-mudahan makin ke sini, makin sedikit anak-anak yang seperti saya.




      0
  • Aku juga masih berdamai dengan masa lalu. Cara paling mudah memang menuliskannya dalam versi yang lain seperti fiksi. Ya mari menata hati dan berdamai




    0
  • Senang baca tulisan mvak Sekar, sudah bisa berdamai dengan masa lalu. Salut! Dan aku galfok sama diarynya, ya ampun mbak bisa konsisten dan telaten nulis di buku harian itu luar biasa lo




    0
  • Hai Sekar, salam kenal yaaa. Baca tulisannya ikut larut, kata-katanya tersusun indah dan nggak kerasa udah berakhir aja :’)
    Tujuan awal ngeblog sama nih, menjadi terapi innerchild yang yaaa tak sebahagia anak-anak lain meski juga tak separah Sekar. Dan ternyata semakin jauh ngeblog, semakin banyak juga yang didapat. Bukan cuma hati yang berlahan ikhlas dan memaafkan, tapi juga teman yang berdatangan.

    Baca ini jadi pengen nulis dengan gaya bahasa seperti awal-awal ngeblog, hihi.




    0
    • Hihi iyaa kan yaaa ngeblog emang seru. Makin banyak tulisan dari para narablog yang saya baca, makin terbuka mata saya bahwa yang punya masa lalu lebih menyedihkan ada banyak. Saya masih harus banyak-banyak bersyukur karena Allah bimbing terus sampai detik ini. Semoga seterusnya. Insyaa Allah. Aamiin

      Terima kasih sudah membaca, Mbak Rotun 🙂




      0
  • Membaca ini jadi nano2 pikiran saya nih hehe…Apa.pun itu Sekar keren dan hrs bersyukur diberi hobi n kemampan menulis hingga bisa mengurai luka yg pernah ada… Semoga ke.depan hidup kita bisa jauh lebi baik…keep.strong..;)




    0
  • Mbak Sekar, peluk erat ya….
    Saya speechless, membaca pengalaman masa kecil Mbak Sekar.
    Namun sekaligus juga salut dengan kemampuan dan kekuatan Mbak Sekar dalam menuliskannya.
    Semangat memaafkannya kuat dan menular Mbak, pasti jika ada yang mengalami hal yang sama dan membaca tulisan ini akan mendapat kekuatan juga…. Gbu Mbak Sekar dan keluarga….




    0
  • Ibumu luar biasa sekali. Banyak wanita yang setelah bercerai, lalu menjelek-jelekkan mantan suaminya di depan anak-anaknya. Tapi ibumu malah tetap menyuruhmu untuk menghormati bapakmu, karena tetap saja lelaki itu adalah bapaknya anak-anak. Semoga senantiasa ikhlas dengan takdir kehidupan Sekar, karena selalu ada hikmah di dalamnya.




    0
  • Seems like aku harus banyak belajar lagi nih daei mbak Sekar juga. Ada hampir kesamaan masa kecil, bedanya aku ga pernah dikerasi orang tua. Terutama bapak. Tapi mereka sempet bercerai. Hmm tapi sampe skearang bareng lagi, rujuk ..




    0
  • Innerchild memang berdampak besar pada kepribadian seseorang, jujur saya pun masih terjebak innerchild dan efeknya ke anak-anak, baca artikel ini menyadarkan bahwa innerchild bisa diobati dengan terapi menulis, terima kasih sharingnya




    0
    • Hi mb Sekar, hepi bisa baca curahan hati mba tidak semuanya bisa terbuka dan emang menulis menjadikan refleksi buat diri kita barangkali ada org lain diluar sana yg punya pengalaman sama y mba :)aku pun sulit untuk memaafkan mba apalagi org yg ada dilingkar terdekatku 🙂




      0
  • Sepertinya kita seumuran deh, Mbak. Hihi. Nggak penting banget ya. Krik krik krik.

    Ngomong-ngomong soal kenangan masa kecil, setiap orang pasti punya kisah. Entah itu bahagia atau kirang bahagia. Terpenting adalah bagaimana kita berdamai dengan diri kita sendiri untuk melanjutkan hidup.

    Semangat selalu, Mbak. Aku suka gaya penulisanmu. Ehm, apakah ini kunjungan pertamaku?




    0
  • masyaa Allah, bener kata2 ibuk yg sangat bijak ttg bapak mbak. Segimanapun buruknya ingatan kita, ternyata seseorang yg kita anggap buruk tetap membawa bekas yg ternyata jadi pondasi titik balik kita. Semoag Allah menjagamu dan ibuk ya. Salam kenal 🙂 btw, menulis emang terapi menyembuhkan menurut hasil penelitian yg diungkap banyak psikolog. Luar biasa^^




    1
    • Salam kenal, Mbak Prita 😀

      Saya juga nggak kepikiran dengan apa yang diucapkan ibuk. Jadi bahan refleksi akhirnya. Harus bisa berdamai tanpa menyisakan dendam dan air mata. Semoga bisa hehe. Aamiin doa yang sama juga buat mbak dan keluarga ya 🙂




      1
  • Salut mampu mengatasi inner child yang terjadi. Saya mengenalmu sebagai anak yang ceria dan suka menulis.

    Alhamdulillaah senang bisa membaca tulisan-tulisanmu yang positif. Menata hati dengan terus belajar memaafkan.

    Salam buat ibu ya say




    0
  • masya Allah ku pikir hanya cerita di film2 saja yang seperti itu kak, keren berkat menulis di blog smua jadi lebih baik yah kak, tak terasa air mataku menetes ketika baca pesan dari ibuk. salam buat ibuk kak 🙂




    0
  • Subhanallah mbak Sekar. Semoga mbak sekar selalu diberi kekuatan. Terharu dan gemetar bibir ini saat membaca tulisannya mbak yang begitu mengalir. Yang mbak alami adalah satu dari ribuan anak dalam kondisi psikis yang berbeda. Namun hanya dengan kemurahan serta kebesaran Nya jua mampu menjadikan mbak Sekar kuat dan sabar. Semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan pada mbak. Aamiin. Bacanya sangat menguras emosi saya. 😍😍




    0
  • MasyaAllah, perjuangan melalui masa-masa berat yang luar biasa Mbak. Sampai sulit berkata-kata. Banyak pelajaran yang saya peroleh dari tulisan Mbak Sekar ini, tentang keluarga dan kerelaan hati untuk memafkan. Salut!
    Semoga azamnya bisa terwujud ya Mbak. Semoga Allah senantiasa memberikan kemudahan jalan untuk kebaikan yang Mbak lakukan.
    Salam kenal 🙂




    0
  • Mo pinjem Diary nya dong… aku paling kepo sama diary…apa aja sih yg ada di dalamnya… soalny diary aku selalu nganggur… baru 3 kali nulis udahan… beberapa tahun kemudian coba nulis diary lagi…trus mati suri kembali😁

    Fix aku jd fans. Aku padamu Dek. Fightiiiiing😘😘😘




    0
  • Wah ceritanya kok bikin saya ikut merasakan sesaknya ya. Saya mengalami seperti apa yang mba rasakan. Hanya saja saya mendapatakannya dari papa dan mama saya. Makanya saya juga takut jadi membawa pengaruh buruk dalam pengasuhan saya pada anak saya. Makanya saya hati2 sekali. Khawatir inner child yg buruk itu tiba2 muncul




    0
  • Berarti aku terakhir mampir ke blog mba sekar th 2018 yaa.. rasanya nyesel cukup ketinggalan hehe.

    Barakallah mbakuh… semoga Allah mudahkan tekadnya untuk berani memaafkan & berkahkan hidup mba sekar dan ibuk :”” salut bgt Mba Sekar dan ibuk emang sangat teruji kestrongannya.. semoga Allah beri ganjaran syurga atas kesabaran mbak dan ibuk aamiin T.T :”

    Aku bersyukur karena sifat pelupaku sangat membantu proses memaafkan, tapi kalo orang tua sendiri yg justru mengingatkan… di situlah aku dilema karena tiba2 alam bawah sadarku memunculkan kesal lagi. Makanya emang bener2 hrs maafin sampe ke akar2nya entah gimana caranya yak. Keep strong mbaak




    0

Terima kasih sudah membaca :D Apa pendapatmu?