Obrolan Di Atas Tikar

winedummy-comua

Sudah kusiapkan tikar untuk pertemuan kita di masa depan. Sambil duduk, kelak akan kita nikmati suatu pagi yang jernih dan sayup. Di sampingnya, sudah siap camilan manis, gurih, dan asam. Setiap kita mulai mencicip salah satunya, selalu saja mewakili satu rasa di masa lalu. Ketika kita saling memandang, di sanalah letak cerita berkelindan membawa cinta.

Kita sama-sama sedang menunggu. Sampai detik ke berapa takdir Allah berhenti, kemudian kita saling mengikat janji. Pada apa-apa yang telah Allah kehendaki, semua akan terasa nikmat begitu kita saling tatap, lalu sama-sama menguatkan pundak masing-masing. Ada tanggung jawab berlipat, ada cinta yang harus utuh setiap saat.

Di atas tikar kita bercengkerama. Panjang, lama, dan ada air mata. Tangan kita menutupi silau matahari, sembari berharap hujan datang menyiram yang terlalu panas dan gersang. Ternyata, harapan kita semakin lama semakin sama; setelah cukup lama teriknya membakar, awan akan berkumpul membawa kabar gembira. Begitu terus berulang-ulang, sampai kita kebas dari rasa sakit, dan terus merasa bahagia tentu saja.

Apa yang kita risaukan sekarang? Ketika kepastian tak perlu ragi diragukan, ketika nama kita sudah tercatat, hanya saja belum disebutkan, alangkah baiknya sekarang kita saling bersiap. Sudah saatnya mengatur ulang menu yang akan kita santap esok. Menu yang akan kita nikmati dengan sepenuh rindu di atas tikar.

Bersama-sama, sampai surga…

***

Sebuah surat kecil yang dibuat untuk sahabatku ketika ia sedang pengabdian di Raja Ampat pada Mei 2016. Sekarang, sahabatku yang sabar itu sedang dianugerahi calon bayi istimewa di rahimnya 🙂

Selamat menjadi wanita paling bahagia di dunia!

4 tanggapan pada “Obrolan Di Atas Tikar

Terima kasih sudah membaca :D Apa pendapatmu?