Kalau Kutu Buku Traveling, Beginilah Isi Ranselnya

Sebetulnya saya agak geli mengistilahkan diri sendiri sebagai kutu buku. Sebab saya nggak pinter-pinter juga sampai sekarang meski maniak baca buku sejak kelas 2 SD. Dan merasa nggak menghabiskan bacaan sebanyak temen-temen saya di klub buku yang lebih gila-gilaan lagi jumlah dan ragam bukunya.

Kayaknya saya lebih cocok disebut penyuka aja. Menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan buku. Suka wangi kertasnya, bunyi ketika halaman buku dibuka, wawasan yang diperoleh begitu baca halaman pertama, waktu santai dan privat kalau udah baca buku, dll.

Daripada kutu, kan. Agak gimana gitu.

Saya termasuk golongan jamaah yang ke mana pun perginya, satu buah ransel setia nemplok di punggung. Kondangan juga saya bawa ransel. Isinya? Mentang-mentang cuma kondangan, terus ransel isinya kosong atau cuma alat make up gitu? Oh, tidak. Ransel saya isinya selalu rame. Kondangan cita rasa kemping. Habis kalo nggak bawa ransel dan segambreng isinya, rasanya kayak ada sebagian jiwa yang hilang. #cuih

Saat nulis ini, saya berharap bisa mendirikan komunitas kecil-kecilan yang beranggotakan kawan-kawan senasib dan spenanggungan dalam hal fashion, khususnya gaya tas beserta isi di dalamnya. Pasalnya, saya suka dikatain mau ngerampok perasmanan penganten akibat atribut kondangan amat sangat tidak berstandar nasional. Yang ngatain sih temen sendiri. Kadang saya mikir, iya juga. Wajib menghormati yang punya acara.

Tapi saya merenung lagi. Ah, saya tetep kelihatan oke kok meski bawa-bawa karung (baca: tas ransel). Lewat batas rata-rata lah walaupun nggak secantik Raline Shah. Terlepas dari perkataan mereka yang kadang benar adanya, saya akhirnya muter otak untuk menyiasati agar tetap cakep gayanya meskipun pakai ransel.

Pada suka pengin kepo nggak sih sama isi tas orang dengan kepribadian tertentu?

Kira-kira yang dibawa oleh para bookworm di dalam tas pada aktivitas harian mereka, rata-rata kayak saya ini #deklarasisepihak 😛 Beberapa barang ini sifatnya wajib ada di ransel. Kalau nggak, saya rela balik ke rumah demi di dalam tas ada barang-barang ini. Oh ya, kalau traveling ke manaaa gitu, isinya nggak jauh beda. Paling tambahannya baju dan alat mandi. Nggak menarik sama sekali :/

Isi tas sehari-hari.

Buku

Minimal satu. Biasanya, saya bawa buku non fiksi. Kalau fiksi, baca di jalan yang banyak suara bising, saya sulit meresapi alur cerita dan karakter tokoh. Bagi saya, baca buku fiksi enaknya di rumah. Di atas kasur, sambil nyetel instrumen dan kipas angin muter pelan.

Notes + 1 pulpen

Oleh sebab saya juga pecinta notes lucu-lucu gitu, jadi ini wajib ada di tas. Mau dipake kek, mau enggak, bodo amat. Pokoknya harus ngikut ke mana pun saya pergi. Kalau saya lagi datang ke satu forum diskusi keilmuan, kajian atau semacamnya, saya aktifkan ponsel ke mode getar, simpan di dalam tas, dan fokus menyimak pemateri sambil mencatat. Atau ponselnya dipakai untuk merekam, tapi tetap sambil mencatat.

Saya memilih cara menulis catatan di buku untuk mengikat ilmu ketimbang hanya merekam atau ditulis di ponsel. Lebih enak dan gampang diingat kalau nyatet sih.

Payung

Jelas dong ya payung buat melindungi diri dari air hujan, bukan dari godaan setan. Payung saya warnanya biru, sama kayak tas. Saya suka warna biru itu awalnya SD kelas 5 karena ikut-ikutan temen. Saya nggak pernah punya kesukaan atau hal-hal yang difavoritkan, lalu lihat temen-temen kok pada punya sesuatu yang paling disuka, akhirnya saya ngikut.

Eh, ternyata keterusan sampai sekarang. Biru yang saya suka itu biru langit, biru muda. Cuma, sekarang jadi suka juga warna cokelat, warna-warna kulit ala vintage. Jadi dua warna ini adalah yang saya sukai sekarang. Selain unik, warna cokelat juga cocok di kulit saya. Sekarang nggak ada ikut-ikutan lagi, nggak labil kayak dulu. Sukanya sama warna itu lebih karena unik dan kelihatan antik aja.

Air Minum

Kebiasaan dari SMA sampai kuliah bawa bekal, keterusan juga sampai sekarang. Apalagi alasannya kalau bukan hemat? Nggak perlu beli kalau cuma minum air mineral doang. Sering juga sih bawa nasi lauk dari rumah. Selain lebih sehat, bersih juga kan. Lagi banyak duit atau enggak, saya lebih pilih bawa bekal.

Ponsel + Earphone

Tiap baca buku, hampir selalu saya sambi dengerin musik juga. Lebih tepatnya instrumen sih. Cuma, ini lagi dikurangi supaya hapalan nggak makin lenyap dan kuping juga nggak kenapa-napa. Kan nggak boleh terlalu sering dan berlebihan pakai earphone juga. Dan memang kerasa sih. Kuping saya suka agak sakit gitu kalau kelamaan pakai.

Flash Drive (FD)

Isinya banyak yang penting. Kalau sekiranya lagi ketemu orang dan dia perlu sesuatu dari saya yang kemungkinan dokumennya nggak ada di ponsel, pasti di FD. Pun ketika saya menghadiri kajian keilmuan gitu, kan pengin minta PPT-nya. Semua jadi mudah dengan bawa FD ke mana saja. Ya ya ya.

Qur’an

Solehah banget kan gueee 😛 Jadi ya, ke mana-mana bawa qur’an itu saya lakukan sejak tahun 2011 akhir, begitu salah seorang kawan saya bilang, “Kalau bisa di tas selalu ada Alqur’an, … dst.”

Saya lupa apa kalimat dia selanjutnya. Karena lupa itulah jadi saya mikir sendiri, buat apa ya bawa-bawa qur’an di tas? Anyway, saya bawa qur’annya kalau lagi suci aja. Kalau sedang datang bulan, saya nggak bawa.

Aha! Akhirnya ketemu. Tujuan bawa qur’an itu, selain tentu dibaca ketika senggang atau lagi macet, misalnya di jalan ada apa-apa sama kita, tetap ada harta berharga yang kita bawa.

Supaya kita selalu merasa diingatkan untuk nggak berbuat macem-macem, untuk tetap berbuat baik, selalu ingat bahwa ada yang memperhatikan setiap langkah kita. Dengan adanya qur’an di tas, kita akan selalu wawas diri. Begitu. SAH?

Kunci Rumah

Akibat rumah sering ditinggal-tinggal semua penghuninya, saya jadi harus selalu siap sedia kunci di tas. Di rumah saya ada bagian darurat yang bisa dibuka seandainya nggak bawa kunci. Bagian itu adalah jendela. Ibuk saya rajin pesen-pesen ke anaknya ini supaya jangan lewat pintu darurat itu karena khawatir disangka maling sama tetangga. Oke deh, Ibyuuuk.

Satu Kantong Isi Alat Darurat

Nah, sama ini kayak penampilan yang mulai saya perhatikan satu tahun belakangan. Wadah kecil warna biru itu juga baru banget saya pikirin awal tahun 2018. Mengingat kulit saya tipe kering yang kalo nggak dikasih pelembab, bisa busik kayak ular mau ganti kulit. Pun menimbang bahwa saya mulai sering ketemu orang penting (HALAH) dan mesti wangi segar.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengisi wadah mungil itu dengan… 1) minyak zaitun 200 ml buat dipake di bibir karena bibir saya sering pecah-pecah, 2) cologne bayi (buat ketek lah, masak buat tetes mata), 3) obat mata (yang paling jarang dipakai atau dipakai kalau alergi mata lagi kambuh), 4) kaca bulet kecil (kayak gantungan pin itu lho), 5) minyak kayu putih (kalo tiba-tiba mules atau masuk angin) #wongndesodetected

Jaket

Meski mantan aktivis, saya bukan orang yang hobi jaketan ke mana-mana di segala cuaca. Saya pakai jaket kalau terpaksa harus pulang malam. Udara malam itu bahaya, boss! Atau disaat hujan gerimis dan saya malas buka payung, pakailah jaket anti air. Wis gitu tok.

Pengisi Daya Ponsel

Alias charge. Ini juga nggak boleh ketinggalan. Saya malah nggak pernah bawa powerbank karena nggak terlalu suka aja. Ponsel bisa cepet rusak juga kalau keseringan pakai powerbank.

***

Udah gitu aja isi tasnya.

Kok lempeng banget ya? Saya yang nulis ini aja berharap bisa mempersembahkan benda-benda mewah macam emas batangan kepada para pembaca. Ya sudahlah ya. Beginilah adanya isi tas para bookworm kalau pergi ke mana aja, termasuk traveling.

Saya kepikiran bikin part 2-nya. Tentang isi ransel para kutu buku yang punya hobi nanjak gunung. Tapi masih mikir-mikir, jangan-jangan barang-barangnya sama aja. Nggak seru ye kan. Entar deh ya nyari referensi dulu.

26 tanggapan pada “Kalau Kutu Buku Traveling, Beginilah Isi Ranselnya

Terima kasih sudah membaca :D Apa pendapatmu?