Dokter Judes dan Pasien BPJS

Anggaplah ini omelan ibu-ibu 7 anak yang selalu menaati aturan negara, rajin bayar pajak, punya KTP, jalan selalu di sebelah kiri, menyeberang di zebra cross saat lampu lalu lintas warnanya merah.

Kenapa harus ibu-ibu? Sebab saya mau mengomel yang kelihatannya lebih mirip omelan ibu-ibu daripada perempuan muda. Saking saya kesal sampai ubun-ubun.

Saya memutuskan ke dokter setelah 3 hari sakit. Disaat demam sudah mulai turun, batuk sudah mulai reda, malah di akhir saya terserang flu dan radang tenggorokan. Obat yang saya konsumsi sebelumnya (berdasarkan resep dokter saat dulu saya masih rajin bolak-balik ke dokter) entah jadi resisten atau apa, hanya meredakan sebentar. Setelah saya bangun tidur, hidung gatal lagi, bersin-bersin terus, dan tenggorokan juga gatal, perih, pokoknya tak karuan ini badan.

Saya berangkat ke dokter M yang lokasinya tidak begitu jauh dari rumah. Sejak SMA, saya sudah langganan ke dokter ini kalau sakit. Namun, ini pertama kalinya saya bertemu dengan dokter M lagi setelah sekian tahun lamanya. Sebab, sejak operasi amandel tahun 2014, saya sudah tidak pernah ke dokter lagi. Alhamdulillah.

Saya pikir, dia akan menyambut saya dengan ramah sebagaimana biasanya (dulu). Ternyata, wajahnya sudah dipasang berlipat, ditekuk, lalu bertanya sakit apa cepat-cepat. Saya bilang, sebelumnya, saya minum obat X dan Y sebagaimana dulu biasanya dikasih resep itu.

Saya normal berpikir, ini curhat yang wajar. Saya utarakan jujur minum obat apa sebelumnya supaya dia tahu. Kalau keliru, tinggal dikoreksi baik-baik. Catat: BAIK-BAIK.

Eh, belum selesai saya bicara, dia langsung marah dan protes kenapa saya minum obat itu, disuruh siapa, kenapa berani minum obat yang tidak diresepkan?

123rf.com

Saya paling sebal kalau sudah dikasari begitu. Saya balik bicara pakai otot. “Lah, kan dulu dokter biasanya ngasih resep itu. Ya nggak salah dong kalau terus saya pakai resep itu.”

Setiap dia bicara apa, saya selalu balas. Singkat cerita, selesailah dia periksa saya, lalu mengambil kertas khusus (surat sakit). Masih dengan wajah berlipat, dia tanya, “Ini untuk kapan? (periode izinnya)”

“Hari ini dan kemarin aja, dok.”
“Dua hari aja?”
“Ya”
“Nggak seminggu sekalian?” Saya tak paham, ini dia bercana atau bukan. Suara dan wajahnya tidak menunjukkan tabiat hangat sama sekali.

Dengan cepat dan ketus saya jawab, “Oh, sebulan sekalian aja, dok. Lebih bagus.” Lalu saya tinggalkan ruangan dokter dengan hati kesal.

Dan ini buka pertama kalinya. Ibuk saya berulang kali diperlakukan sama. Ibuk saya hanya tanya, kalau cek darah apakah ditanggung BPJS juga atau tidak.

Jawabannya, “Pasien itu tidak bisa seenaknya minta ditanggung semua…… bla…bla…bla…”

Situ waras, HAH? Kan nyokap gue cuma nanya!

Saya ingin bicara di depan wajahnya, “Kalau bukan karena aturan negara, saya lebih memilih untuk bayar alias tidak pakai BPJS, meski mahal, daripada pakai kartu-kartu begini tapi tidak dihormati. Memang apa salahnya jadi pasien BPJS? Jadi miskin, salah? Harus kaya, gitu? Gimana sih? Jadi dokter kok nggak paham etika.”

Saya rutin bayar BPJS, saya coba taati kebijakan negara yang ke depannya akan mewajibkan seluruh warga punya kartu tersebut. Lantas, kenapa harus diperlakukan demikian?

Saya sedih membayangkan berapa banyak orang-orang kecil yang pasti diperlakukan serupa saya, bahkan mungkin lebih sadis, oleh tenaga medis. Orang miskin dilarang sakit atau bagaimana seharusnya?

Dana BPJS Tak Kunjung Cair (?)

Saya pernah baca artikel yang isinya curhatan seorang dokter di media sosial bahwa seringkali yang membuat para tenaga medis kesal adalah biaya RS atau klinik mereka yang ada fasilitas BPJS, tidak kunjung dibayar oleh pemerintah. Seringnya menunggak dibayar. Padahal, mereka butuh uang untuk mengisi stok alat dan obat-obatan.

Apakah kemudian kekesalannya ditumpahkan ke pasien? Kalau pasiennya memang tidak sopan, ya silakan saja ditegur. Saya pun setuju untuk mengomeli pasien yang semaunya sendiri.

Saya tidak sepenuhnya menyalahkan tenaga medis, sebab saya paham betul, mereka juga ada di posisi tidak menyenangkan sebagai dampak kebijakan pemerintah (yang bagi saya terkesan buru-buru sekali).

Namun, bisakah para tenaga medis mengedepankan sopan santun, etika, adat yang baik terhadap pasien? Lalu sekarang, dana dan kebijakan BPJS juga memunculkan polemik baru. Lengkap sudah.

43 tanggapan pada “Dokter Judes dan Pasien BPJS

  • Dulunya pas beliau masih ramah, Mbak Sekar nggak pakai BPJS? Aku kadang menghindari sesuatu yang tidak direncanakan memilih berobat manual (tanpa kartu BPJS). Cuma kan ya kita bayar tiap bulan, fungsinya buat apa coba kalau nggak dipakai?




    0
  • Mbak … aku turut sedih.
    Dana BPJS ini simpang siur. Ada yang bilang pencairan dari BPJS lama. Ada yang bilang pihak RS tidak setor berkas yang lengkap. Ah entahlah.
    Dari sisi pasien maunya ya dilayani dengan baik, mau pakai dana pribadi ataupun asuransi.




    0
  • Emakku juga pernah diomelin petugas puskesmas dan petugas rumah sakit karena pakai BPJS. Tapi ya kalau di rumah sakit lain pernah dapat pelayanan bagus juga walapun sama-sama pakai BPJS. Tergantung petugasnya kali ya atau gimana???




    1
  • Gimana ya saja juga pernah di judesin kaya gitu dan memang sih untuk berobat pakai BPJS itu melalui proses ga sebentar tapi Alhamdulillah berkat BPJS juga sangat ngebantu saya yang sudah beberapa kali operasi .

    Sekarang positif thinking aja kak , mungkin dokternya lagi banyak masalah jadi ya kurang mood aja.




    0
  • Hadeuhh, suwebel tingkat 1000 kalo ketemu dokter model begini. Aku pernah juga figituin mbk, rasanya langsung darah naik. Gimana nggak kesel ya… Datang baik, eh respon ya ngeselin, huhu




    0
  • Kayaknya oknum aja. Almarhumah mamah mertua juga pernah cerita dicerewetin sama suster di rumah sakit. Padahal dokternya mah baik banget. Tetapi, memang negselin kalau ketemu yang judes




    0
  • Mbaaa… siniiihhh pelukkk, kita makan es krim bareng yuk, atau es campur deh, atau es jeruk deh, atau air es deh, loh kok makin gak enak ya hahaha

    Oknum-oknum kayak gitu seharusnya dikadoin alat pijat mba, dia capek kerja, tapi marahnya ke pasien, kan sebenarnya gampang, kalau capek kerja ya istrahat, sekalian jangan buka praktek, toh ada ribuan dokter yang lulus setiap tahunnya dan siap mengisi semua kekurangan dokter muahahaha.

    Saya nih ya, sampai rela begadang ngurus anak kalau sakit, sebisa mungkin dirawat sendiri dulu, demi menghindari ke dokter.
    Sudahlah antri, dapat dokter kayak gitu, jadi pengen disiram air es tau gak sih hahahaha




    0
  • Eh iya lho haha ampun masalah dokter judes ini masalah jaman now, sampai temanku di judesin di UGD padahal emegency banget pas temanku bilang SAYA BAYAR PRIBADI BUKAN BPJS langsung dokternya mendadak ramah. Emak garuk-garuk kepala




    0
  • Kenapa ya sekarang kalo BPJS malah jadi kayak dokternya menyepelekan gitu ya Kak. Padahal juga kadang bayar sendiri, aku pun demikian bayar sendiri karena belum punya BPJS. Semoga dokternya nggak semena-mena lagi. Kan kasihan sakit kok dimarah.




    0
  • Alhamdulillah belum pernah dijudesin dokter di Jogja. Kalo sakit biasanya ke puskesmas karena pake BPJS, dari situ baru dirujuk ke RS. dan karena dari awal udah tau pake BPJS ya dilayani sebagaimana mestinya 🙂




    0
  • aduh kalau dokter judes sebelum ada BPJS juga udah ada yg judes. ngomongnya nyelekit.

    dulu waktu kerja disalah satu bank saya gunakan asuransi yg mencover semua masalah kesehatan saya. dan preminya lumayan tinggi.

    biasanya dilayani dg baik, eh pas periksa mata dokternya ngomel2 pas tahu saya periksa di salah satu optik. huaaa…banyak bgt cerepet2annya. selesai periksa, saya ga mau lagi ketemu dokter itu.




    0
  • Semoga ke depan pelayanan BPJS semakin mudah dan pelayanannya juga semakin baik ya. Sedih jika ada yang bertanya baik tapi balasannya seperti ini ya mba




    0
  • saya pernah jengkel juga soal kaya gini waktu proses pengobatan adek saya. dia kecelakaan, patah tulang kaki. Ada salah satu rumah sakit yang menurut saya menjengkelkan. Rumah sakit ini justru mendahulukan masalah birokrasi kelengkapan BPJS dan Jasa Raharja, ketimbang adek saya yang ngathang-ngathang tanpa daya. Kalau halal, saya bisa tonjok muka petugas itu.

    Untungnya, setelah melalui proses panjang, bahkan tanpa mendapatkan surat rujukan, saya berhasil memindahkan adik saya ke RS di Solo. Khusus ortopedi. Di sini saya merasa puas. Penanganannya benar-benar bagus. Pasien didahulukan. Urusan surat-surat kemudian. Alhasil, adik saya dirawat di sini tanpa biaya sama sekali. Semua ditanggung Jasa Raharja.

    Kesimpulan saya, tidak semua RS bersikap demikian. Ada memang yang menjengkelkan. Tapi kita juga g bisa 100% menyalahkan mereka. Ada beberapa hal yang memang ada benarnya menurut versi mereka.




    0



    0
    • Alhamdulillaaaah kalau ada RS yg pelayanannya sangat baik. Kok kayaknya langka ya yang begitu di Indonesia? 🙁

      Iya, pasti ga semua RS dan dokter galak dan kelihatan abai thd pasien. Cuma, mayoritas keluhan yg saya dengar dari kawan, tetangga, kenalan, kok kayaknya malah jadi lumrah gitu RS dan dokter diskriminatif thd pasien BPJS. Pernah juga malah nemu pasien BPJS kelas 1 dilayani ramah, tapi dgn pasien BPJS kelas 2 dan 3 dicuekin. Astaghfirullaaaah.

      Saya pun akhirnya pindah rujukan ke dokter yg baru. Dokternya ramah sekali.




      0
  • Bunda juga ngalamin di jutekkin fokter mata di rsud tp untung udah di brief sama para padien yg nunggu giliran ketika ngobrol kl nundb ini pasien baru: Bu, nanti jngn kaget ya waktu ngadepin dokternya, pokoknya sabar, urut dada, kl bisa lawan aja dia kl kasar. Dan beneran itu dokter mustinya kudu fijepret mulutnya.




    0
  • Setuju mba.
    Kalau di klinik aku, ada juga dokter oknum seperti itu.
    Kadang ada yang lebih kurang ajar, kita sudah masuk dia masih main HP.
    Giliran kita curhat, suaranya ketus!

    Untung di tempatku dokternya ada 3, tergantung jam visit.
    Jadi pilih dokter yang ramah, biasanya di pagi hari.

    Mungkin harusnya ada kotak saran ya, untuk perbaikan pelayanan




    0
  • Mbak, Ujame love artikelmu ini karena ini benar-benar sesuai real di lapangan. Terasa banget dari tulisan ini bagaimana kekecewaan mbak. Begitupun Ujame juga pernah mengalaminya.

    Ya Allah, semoga petugas bisa lebih baik yaaa memperlakukan pasien BPJS. Sedih.. .




    0
  • Ini bener banget sih mba hahha… Sepertinya dimana-mana deh, bahkan di medsos pun saya sering lihat teman-teman dokter mengeluh begini…
    Kalau di RS deket saya dulu, pasien BPJS gak enaknya itu di nomor duakan, padahal ya kita kan sama-sama bayar ya… Bedanya kita bayar tiap bulan ke BPJS, tidak pas sakit di RS. Apakah ini semua salah aku? Trus aku kudu piye? 😀




    0



    0
  • Bacanya aja jd kesel…Dulu waktu hamil anak pertama cari dokter paling terkenal di bdg krn ingin mendapat yg terbaik maklum anak pertama. Taunya judes heu…mungkin cape ya krn antriannya banyak.
    Wkt ditunjukin USG janin, suami komen kok engga keliatan ya.Dok jawabannya sekolah kedokteran dulu deh.
    Hehe…kalau sekolah kedoktetan mah g akan dtg ke dokter ya..hahaha…




    0



    0
  • saya sudah lebih 3 tahun merasakan pahit dan manisnya memakai BPJS waktu mama saya sakit mba. Rasanya pengen kesel sama mba. Mama saya beberapa kali masuk RS dan ketika seminggu pihak RS suruh pulang padahal belum sembuh benar. Sampai akhirnya saya bawa mama berobat non BPJS di Jakarta dan ke Penang juga.




    0



    0
  • Kalau di daerahku ada RS yang ramah ke semua pasien, namun ada juga yang ramahnya pilih pilih, entah apa sebabnya.
    Semoga kekurangan program BPJS ini dapat segera teratasi, sehingga semua masyarakat bisa menikmati manfaatnya…




    0
  • Baca ini aku jadi inget apa kata mamaku kka. Dia sampe ga mau lho ikut BPJS. Mamaku sensitif takut diperlakukan seperti itu. Soalnya cerita kaka ini bukan hanya kaka aja yg mengalami tetanggaku juga sering cerita. Hiks




    0



    0
  • Hmmmm…. ngeselin banget ya Mbak, dokternya tu…. Mungkin sedang ada masalah pribadi ya…. Saya pernah pakai BPJS juga sebelumnya, bersyukurnya nggak ketemu yang judes kaya begini ni. Kalau ketemu, bisa tak gigit saking keselnya hihihi…. Sabar ya Mbaaak…. Semoga beliau menjadi lebih baik.




    0



    0
  • Aku paling gak nyaman kalo berobat dokternya judes apalagi kalau kita sudah bayar sendiri ya, tapi walaupun pakai BPJS harusnya sih ramah juga ya dokternya. Tapi Allhamdulillah banyak dokter yang melayani BPJS dengan ramah juga meskipu nkitanay harus sabar karena antrian,




    0
  • Jadi serbasalah ya, bukannya pemerintah yang mewajibkan pakai BPJS mau miskin atau kaya, tapi sikap dari paramedis seperti itu yang membuat pasien jadi kesal, duh gemes banget si sama si dokter dan seakan-akan pasien nggak berdaya diperlakukan semen-mena, padahal BPJS juga khan bayar ya, nggak gratisan juga




    0
  • Beberapa bulan lalu anak saya harus opname karena demam tinggi banget. Niatnya mau pake bpjs yang jadi hak kita. Tapi karena pas mau pake harus antri lama banget dll, jadinya bayar cash aja. Alhamdulilkah enggak terlalu besar juga sih.




    0
  • Iya mba sekarang ada yg spt itu, klo aku pernah ngalamin dokter yg bicara gk eye kontak gitu dia lihat hp trus aku cuekin lah baru stelah aku gk jawab dia lepas hpnya,, kdng berpikiran kok dokter sombong bngt yak




    0
  • Perilaku dokter ini mungkin memang udah bawaan orangnya kalik ya. Memang tidak semua dokter ramah sih, aku juga mengalami hal itu. Ada yang harus ditanya banyak biar dia memberikan nasehat medis, karena kalau kitanya diam saja dia juga enggak bilang apa-apa. Ada juga yang memang asli ramah meskipun pasiennya berjubel dan fee pengobatannya masih dihutang oleh BPJS. Semoga diberikan kesehatan dan kesabaran ya Sekar menghadapi hal ini.




    0
  • Mungkin karena pihak BPJS pada nunggak bayarin ke RS, jadi deh pada telat gajian dan pada sensitif makanya tidak ramah kerja.
    Memang harus sabar deh mba kalau berobat dengan BPJS 🙂




    0
  • Wah saya jd bingung gmn komentarnya ya. DI sisi lain ya mungkin dokter ada masalah tapi emang gk seharusnya ditumpahkan ke pasien. Trus masalah BPJS juga seing deegr rumah sakit atau dokter gak dibayar2, nunggu lama. Semoga sistem BPJS ini jd lbh baik lagi ya mbajk. Semoga ada solusi dmn nakes dan RS gak lama2 dibayarnya ma yg berwenang dan kita semua sehat2 selalu aamiin




    0
  • Aku sering denger cerita seperti ini. Termasuk dari mama. Jadinya, kalo berobat, mama gak mau lagi pake BPJS. Padahal kami punya dan bayar tiap bulan. Sedih ya dengernya. Tapi memang gak bisa tutup mata. Banyak banget rumah sakit yang dana BPJS-nya belom cair. Dan semua cost rumah sakit untuk cover pengobatan pasien belum diganti. Entah salah di mananya. 🙁




    0
  • Kok, masih ada ya dokter selerti itu. Ikut ngenes bacanya. Masih untung ada pasien yang mau berobat.

    Saya juga sama, dulu langganan ke dokter, terutama sakit flu-pilek, sakit tenggorokan. Karena seringnya berobat jadi tau, diberi obat itu2 juga, jadinya sekarang sering beli obat tanpa resep.
    Alhamdulillah, jadi sangat jarang ke dokter.




    0

Terima kasih sudah membaca :D Apa pendapatmu?