5 Fakta Tentang Sekar: Tulisan Narsis? Anggap Saja Begitu

Saya perlu mengawali unggahan kali ini dengan ketawa dulu.

Jadi, saya hampir nggak pernah cerita banyak tentang diri sendiri ke orang lain, meski itu teman dekat. Sampai sahabat saya pernah komentar, “Kar, kok kayaknya aku nggak pernah denger kamu cerita tentang hidupmu sih? Aku terus yang cerewet curhat.”

Saya cuma nyengir. Nah, berhubung kali ini ada #30DaysChallenge dari BP, jadi saya narsis dikit dah ya. Pemilik blog ini orangnya kayak gimana sih?

1. Strong Willed Child

Saya baru tahu tentang tipe psikologis ini beberapa pekan lalu. Tipe ini cenderung dikenal keras kepala, menolak diatur, nggak bisa langsung nurut saat diberi perintah, suka mempertanyakan apa alasan di balik suatu instruksi, suka menciptakan standar buat dirinya sendiri, merasa sangat gusar saat ada perubahan yang terjadi di luar kontrolnya.

Orang dengen tipe begini sering disalahpahami sebagai orang yang suka melawan, susah diarahkan, ngeyelan. Padahal orag dengan tipe ini cuma punya energi yang lebih aja dari kebanyakan. Jadi kesannya keras kepala. Aslinya mah cuma pengin memahami esensi di balik sesuatu yang harus dia lakukan.

Kayaknya saya tertarik nulisin ini lebih lanjut di satu unggahan sendiri. Hmmm… hmmm… mmmh… mmm… hhhh… mmmhhhmmmm…. (???)

parentingforbrain.com

2. Introvert

Kayaknya hampir semua, atau memang semua temen saya taunya saya ekstrovert ya? Kayaknya sih gitu deh. Semua yang kenal saya dapat dipastikan mengenal saya sebagai Sekar yang penuh warna (ahelaaah). Dan seinget saya, saya cuma bilang ke satu orang kalau saya itu sebetulnya introvert.

Saya suka ketemu orang baru, suka keramaian, tapi jangan terlalu sering. Itu bikin capek. Di antara waktu ramai bareng temen-temen segambreng dan waktu sendiri atau berdua, saya lebih suka waktu yang sendirian aja. Bepergian ke luar kota (traveling), nonton bioskop, ke toko buku, itu lebih nyaman saya lakukan ketika saya sendirian.

Sahabat saya lagi-lagi komen, “Selama ini kamu pura-pura dong, Kar? Pakai topeng bahagia dan sok kuat padahal rapuh.”

Itu bukan frasa yang tepat sih saya rasa. Saya cuma mikir sederhana. Saya nggak suka ketemu orang dalam keadaan cemberut atau sedih. Khawatir energinya jadi nular. Muka lesu dan sedih yang ditampilkan ke temen itu kok bagi saya, kayak bikin susah orang.

Lalu orang lain jadi pengin tau, terus nanti merembet ke curhat yang boleh jadi malah ngerepotin orang. Saya anti yang begini, bikin orang susah. Sungkan deh urusan beginian. Toh, nggak ada yang salah dengan senyum dan selalu bergembira ketemu orang. Kebanyakan temen saya selalu ketularan semangat kalo ketemu saya. Wahahaha. Positifnya lebih banyak.

Atau ada lagi orang yang tanya pertanyaan bodoh, “Kar, sendirian aja.” Dia bilang gitu disaat sekeliling saya ada banyak temen sekelas. Cuma karena saya nggak kelihatan gandengan/nempel sama satu temen cewek, terus dikira kesepian macam Hachi.

Emang harus banget punya sahabat sejati tak terpisahkan di dalam maupun luar kamar mandi, diwaktu tidur maupun beraktivitas, disaat suka maupun duka pada setiap detik dan menitnya? Hah hah??! Sahabat juga punya hidupnya sendiri yang mesti diurusin. Sahabat itu bukan baby sitter. Jadi emosi kan…

aconsciousrethink.com

3. Nggak Pernah Moody-an

Yang saya ceritain ini, dapat dipastikan nggak percaya. Ya nggak apa-apa juga nggak percaya, hahahaha. Kenyataannya, saya nggak pernah tiba-tiba merasa nggak mood melakukan sesuatu tanpa alasan.

Selalu ada alasan logis di balik kemalasan dan semangat saya dalam melakukan aktivitas apa pun. Kalau moody kan cenderung nggak ada angin nggak ada hujan, tanpa motif jelas, tiba-tiba berubah suasana hatinya. I’m big nooo! Oh, meski ada fase menjelang menstruasi bulanan yang sering bikin emosi perempuan nggak stabil itu, saya juga nggak pernah merasakan itu. Sama sekali enggak.

pt.depositphotos.com

4. Suka Becandaan Receh

Kalo lagi bareng temen, lalu suasana sepi tanpa obrolan, saya nggak betah. Penginnya ada yang bikin kami senyum atau ketawa ngikik dan bahagia bersama. Meski itu cuma ngetawain baliho caleg yang entah kenapa cuma bagian gigi dan hidung yang dibolongin demi baliho besar itu tegak paripurna walau tersapu angin kencang.

Atau ngetawain penumpang yang baru juga pake helm, eh abang ojek online maen ngeloyor pergi aja. Lalu si penumpang teriak, “Baaaaang!!! Gue masih dimari Baaaang!!!”

Atau geleng-geleng geli ngeliat status twitter BMKG cuma emot senyum. Di tengah cuaca tak menentu begini, ternyata ada hati babang admin yang lebih kacau. Pokoknya banyak kelucuan kecil lain yang saya suka dan otomatis aja ngelawak sehingga interaksi kami (saya dan temen) jadi nggak bosen, nggak ngantuk.

hasshe.com

5. Ekspresif

Saya itu kok ya pengin banget punya wajah lempeng macam Sinchan. Wajah yang tenang, teduh, dan cool macam Khabib (ouch ouch). Namun, sayang sekali, wajah saya itu wajah Mr Bean. Gampang banget ditebak. Kaget ya beneran kaget “nge-hah” uncontrol gitu lho.

Kalo lagi seneng, bisa meringis seharian sampe gigi kemarau. Kalau lagi kesel (bukan marah), bisa ngomel-ngomel kayak emaknya Aceng Dunia Terbalik (jangan bilang nggak tau!). Padahal harusnya bisa biasa aja.

fr.123rf.com

Kecuali marah. Itu emosi yang lebih dalam dan biasanya melukai sisi prinsipil, maka yang saya lakukan adalah menepi, hilang dari keramaian, kontemplasi sendirian nggak mau diganggu siapa pun. Untuk marah ini, sama kayak sedih, nggak akan saya tunjukkan ke orang. Sedih dan marah.

#bloggerperempuan #BPN30dayChallenge2018

3 tanggapan pada “5 Fakta Tentang Sekar: Tulisan Narsis? Anggap Saja Begitu

  • Dulu kukira mbak sekar nggak akan pernah nulis yang begini saking misteriusnya. Terima kasih challenge itu! HAHAHA!
    Introvert yang ekspresif itu kayaknya langka deh. Dan siapa mengira suka recehan juga. Banyak kayaknya yang bisa dikomentari dari tulisan ini wkwk. Terlepas dari semuanya, senang tahu Mbak Sekar sehat-sehat saja :))




    0
  • Pribadi yang sangat mengerti orang lain banget ini sepertinya. Bahagia untuk dibagi, sedih cukup diri sendiri dan Tuhan yang tahu yaa.
    Saya kalau diacara rame2, termasuk yang sering menerima pertanyaan, “sendirian aja?”, mungkin hanya saya aja yang ngaku2in yg lain teman, sementara yg diaku2 tak merasa jadi teman saya 😀




    0

Apa pendapatmu? :)