Kekhawatiran Setelah Resign

Pilihan saya setelah resign cuma dua: pindah kerja ke bidang yang sesuai dengan potensi/passion (1), atau pengembangan passionnya di rumah aja, nggak perlu jadi buruh lagi dengan rutinitas yang gampang ditebak (2). Soalnya saya cepet bosenan sama segala sesuatu yang berhubungan dengan rutinitas. Gimana yak.

Saat kuliah dan setelah lulus, pas masih seger-segernya, saya sempet mikir lebih baik kerja dulu sebelum nikah karena nanti setelah nikah mesti ikut suami dan belum tentu bisa kerja lagi, ada anak pula, adaptasi di tempat tinggal baru, dan alasan lain yang semuanya menjurus pada satu pilihan: puas-puasin kerja dulu mumpung masih sendiri.

Bagi kebanyakan jomlo โ€“saya nggak bilang semua lho yaโ€“ kerja kantoran adalah pilihan terbaik karena potensi seseorang yang masih sendiri (apalagi baru banget lulus) bakal tersalurkan penuh, bisa bangun kekuatan jaringan, bisa belajar mengelola konflik, belajar toleransi, belajar berdialektika, dll yang nggak bakal didapatkan kalau kerja di rumah.

Well, awal 2018 ini akhirnya pikiran saya itu runtuh semua. Blas saya nggak mikir lagi tentang kerja kantoran yang lebih bisa melejitkan potensi karena ketemu orang banyak, kerja kantoran yang bikin kemampuan sosial lebih terasah, dan segudang alasan lainnya. Saya berhenti mikir begitu karena saya punya hitung-hitungan sendiri.

AHA Momen

Apa sih disebutnya? Yang versi Einstein itu lhoo… Eureka ya? EUREKA! Ya itulah pokoknya. Awal 2018 itulah momentumnya. Memang tahun ini jadi tahun perenungan panjang buat saya. Saya banyak melakukan dialog dengan diri sendiri, mengkhawatirkan ini itu (masuk fase middle life crisis), mulai mengerucutkan tujuan karir, termasuk menyeriusi bakat dan minat untuk dikembangkan penuh tanpa disambi pekerjaan lain.

Saat saya mengalami titik jenuh, yang ibarat kata, bikin mendidih otak sampai jadi encer kayak bubur kacang ijo, pada titik itulah saya temukan banyak sekali alasan sekaligus jawaban telak atas pertanyaan dan kebingungan yang aneh.

Ternyata, dengan bekerja di rumah, justru saya bisa lebih leluasa mengeksplorasi diri dan pergi ke mana pun yang saya suka, melakukan aktivitas apa saja yang menjadi gairah hidup saya, berikut mendapatkan softskill-softskill yang kata orang cuma bisa diperoleh kalau kerja kantoran. Lha, gimana caranya?

Contohnya nih ya. Beberapa bulan lalu pas musibah Lombok, saya diajakin kawan untuk berangkat ke sana selama 2 pekan. Saya dapat tugas masuk ke tim trauma healing tapi disesuaikan dengan potensi saya pada bidang literasi. Jadi bisa dengan mendongeng dan ngajarin anak-anak nulis. Pekerjaan yang indah nggak sih? :โ€)

Soal ongkos PP dan biaya hidup selama di lokasi, nggak perlu dipikirin, ditanggung penuh sama CSR salah satu bank syariah besar tanah air. Rencana yang kemudian gagal total karena saya ada tanggung jawab pekerjaan di kantor. Kata bos, saya diizinin pergi kalau sabtu minggu karena 2 pekan itu terlalu lama. Ya kalik. Dipikir Bogor ke Lombok kayak Bogor ke Depok?!!

Di kantor ketemu ragam orang, iya. Ngadepin macem-macem konflik, iya juga. Dapet tantangan baru, iya sih. Ngasah softskill, bener juga. TAPI……………………………….. lebih banyak tapinya ๐Ÿ™ Saya jadi nggak fokus dengan apa yang mau saya capai. Sebab waktu yang cuma 24 jam itu, yang seharusnya bisa saya pakai untuk kembangkan minat bakat, malah habis sama capek duduk di depan komputer dan perjalanan pulang dari kantor yang bikin ngos-ngosan. Oh ya, dan saya nggak akan beribadah dengan tenaga sisa kalau kerja di rumah. Sebab saya punya kuasa penuh untuk ngatur waktu.

Hasilnya gimana? Kualitas dan kuantitas kerja di rumah bisa sama bahkan melebihi yang kerja kantoran. Sebenernya malah kualitasnya lebih 1000000x lipat ๐Ÿ˜€ Lebay, but its true! Ini yang kebanyakan saya temuin lho ya. Khusus dalam dunia tulis-menulis. Emang harus kerja keras bagai quda sih kalau mau dapat hasil karya yang outstanding maupun duit yang lumayan buat jajan alphard. Halah

Kalkulasi Risiko

Saya rasakan betul keputusan saya kali ini bikin deg-degan nggak karuan. Keputusan untuk kerja di rumah. Yang dipertaruhkan banyak, tapi yang dikorbankan insyaa Allah nggak ada ๐Ÿ™‚ Nyaris nggak ada. Kenapa bisa begitu?

Belum final sih, tapi kayaknya hati dominan mengarah ke sana. Dan, itu tadi, nyaris nggak ada yang dikorbankan, selain dinamika perkantoran dan dialektika antar kawan seruangan. Itu ajak sih yang akan saya tinggalkan.

But, HELLOOO? Saya justru akan menghadapi dinamika lebih besar karena berada di dunia luar, tanpa atap, tanpa dinding, tanpa pagar, tanpa karpet anget, tanpa ada jaminan lebih aman, lebih nyaman, atau lebih bikin mager.

Fakta lapangannya, justru lebih keras ujian yang bakal dihadapi seseorang tanpa status pegawai kantoran. Cuma punya modal isi otak dan prinsip hidup yang mesti dijaga sampai mati. Imunitasnya bisa didapet dari dua modal itu untuk bertahan di arus dunia nyata yang kejam.

Saya pernah ada dalam kondisi kerja di rumah, full, dan dapat duit layaknya gaji standar UMR. Itu dulu tapinya, pas banget habis lulus kuliah. Kalau sekarang, saya bilang deg-degan karena taruhannya banyak. Saya mesti kerja keras karena balapan sama umur (target pencapaian sebelum kepala tiga), jarak tempuh panjang dan banyak belokan tajam menuju tujuan, dan kemungkinan terburuk yang bakal saya hadapi di sepanjang jalan panjangnya.

Mesti cepat diraih dengan hasil baik dan matang.

Kuncinya: Visi Harus Jelas!

Saya habis dapat nasihat. Nggak perlulah bikin rencana jangka panjang karena seringnya kita gagal mewujudkan itu. Intinya bukan seberapa panjang jangka rencana kita, tapi seberapa fokus kita pada tujuan yang hendak dicapai.

Ibarat kita sedang melakukan perjalanan menuju kota A. Di tengah jalan ketemu jalur alternatif, ya ambil aja jalan itu. Coba belok ke situ, siapa tau berpeluang besar untuk cepat sampai tujuan.

Lalu masih di tengah perjalanan, ketemu jalur Z yang kelihatannya bebas macet, yaย coba aja lewat situ. Begitu aja terus. Ketemu satu peluang, coba. Sebab semua kemungkinan punya porsi peluang yang sama besar untuk membantu keberhasilan misi kita.

Asalkan fokus tujuan. Visi besar kita apa? Jangan goyah dan kerahkan semua daya upaya mewujudkannya dengan cara-cara baik dan benar

Nyelekit nggak sih? Bikin ketampar dan ngerasa berantakan banget hidup saya selama ini. Udah nggak fokus tujuan, eh… nemu peluang di tengah perjalanan bukannya buat bantu supaya cepat sampai tujuan malah keenakan mampir lama, sampai akhirnya lupa tujuan besar hidup saya ini sebenarnya apa. T___T

Terakhir, jangan lupa istikharah sepanjang proses memikirkan, merencanakan, dan mengambil keputusan. Sekarang pun saya masih proses istikharah. Belum bulat mau pilih fokus di rumah. Yang pasti, yang bikin saya jauh lebih tenang pada periode usia yang sekarang adalah opsi karir saya nggak lagi lebar dan ke mana-mana. Udah mengerucut, meski belum fokus ke satu titik.

Apakah justru Allah bimbing saya untuk tetap bekerja kantoran di tempat yang sesuai minat sekaligus menggeluti kembali profesi sebagai pengarang fiksi dan blogger dalam satu waktu bersamaan? Ya mungkin aja.

Intinya, kudu jelas nargetin mau meraih apa. Nanti kita bakal nemuin kok kendaraan dengan model paling oke, tempat duduk paling nyaman, dan laju paling cepat supaya bisa sampai ke tujuan kalau jelas apa yang mau dituju, jelas apa yang mau dicapai. Itu koentjinja! Mau kerja kantoran kek, mau di rumah kek, yang kira-kira bisa bikin saya sampai tujuan dengan baik, cepat, selamat, dan indah, maka langkah itulah yang akan saya ambil.

Wait and see… ๐Ÿ˜‰

19 tanggapan pada “Kekhawatiran Setelah Resign

Apa pendapatmu? :)