Drama Hidup di Tiga Bulan Terakhir

Tiga bulan terakhir, banyak banget drama yang rasa-rasanya kok konyol. Mulai dari pengeluaran bulanan penting nggak penting yang selama 3x berturut-turut habis yaitu beli kacamata. Pertama gagangnya patah, kedua gagangnya patah juga (sumpah, saya nggak pernah gigit-gigitin gagang kacamata), ketiga hilang di masjid blok M yang indah itu!

Lalu penipuan online. Emak yang baru ngerasain betapa menggoda dan nagihnya nontonin foto-foto di instagram, kepincut beli sesuatu yang berakhir dengan pelayanan buruk seburuk-buruknya, nyaris ketipu meski setelah saya teror itu penjual, akhirnya dikirim juga barangnya… dalam keadaan CACAT! Pengen banget ngeviralin itu temat belanja 🙁

Pas saya teror penjualnya, itu dalam keadaan bolak-balik ke kantor polisi, ke bank biar rekening penipu diblokir, duit saya balik, kalopun nggak balik nggak apa-apa asal jangan sampai ada korban lain lagi. Nyesek banget pokoknya. Kenapa dari awal saya nge-iya-in permintaan emak? Nah itu dia yang paling bikin keki.

Terus apa lagi ya?

Nemu perbedaan pendapat di organisasi yang berujung konflik antar anggota. Sebetulnya ini hal biasa banget tapi jadi nggak biasa karena… entahlah… seringkali ilmu, gelar akademik, dan usia nggak terus bikin orang jadi bijak. Bahkan meski dia tau adab, nggak lantas pikiran dan jiwanya matang.

Saya yang baru pertama merasakan betapa dahsyatnya konflik itu berimbas kepada anggota-anggotanya, jadi terkaget-kaget sendiri. Jadi kepikiran juga. Orang-orang bergelar baik yang selama ini saya pandang demikian hormat, ternyata cuma pakai topeng (?)

Kejadian yang terlalu sering bikin kaget ini pada akhirnya jadi biasa aja (walau tetep aja suka ngebatin ‘kok bisa? Kok gitu?’) dan jadi bikin saya koreksi diri lagi. Nggak perlu terlalu kagum atau nggak suka dengan seseorang. Kalau kagum, secukupnya aja. Kalau nggak suka, sepantasnya aja. Jangan berlebihan pada apa pun, pada siapa pun. Barangkali ada juga orang lain yang memandang saya seperti saya memandang orang-orang yang saya kagumi maupun yang saya nggak suka.

Perbedaan dan konflik itu niscaya. Dalam siklus hidup manusia beserta lingkungan sosial di sekelilingnya, nggak akan pernah sepi dari dua hal itu. Sebab dua hal itulah yang kemudian akan mendewasakan kita. Makin dewasa manusia, makin dia siap mempertanggungjawabkan tugas-tugasnya di hadapan Allah. Ojo gumunan, kalau kata Si Mbah. Biasa aja. Santai.

Kayaknya sih masih banyak drama lucu dan menggelikan lainnya selama 3 bulan belakangan ini. Cuma saya lupa detilnya apa dan gimana, saking lamanya saya nggak ngeblog. Soalnya, dulu kan hobi banget curhat di sini. Kangen juga ternyata.

2 tanggapan pada “Drama Hidup di Tiga Bulan Terakhir

Apa pendapatmu? :)