Jumlah Penulis Jadi Indikator Negara Maju

Wilayah Maghrib dan Andalusia menjadi salah satu pangkal dari lahirnya keahlian tulis-menulis. Para Guru mendiktekan paragraf demi paragraf dan anak didiknya menuliskan kembali apa yang diucapkan sang guru, hingga tulisan mereka semakin baik dari hari ke hari dan jari-jarinya memiliki naluri untuk menulis. Sampai para murid dikatakan ahli (Mujid). Adalah mereka, para murid yang disebut pelajar sufi. Di mana ilmu pengetahuan menjadi harta terbaik, makanan paling mengenyangkan, bantal paling empuk, dan kenikmatan tiada tara, lebih dari apa pun. 

Makin Maju Sebuah Bangsa, Makin Banyak Jumlah Penulisnya

Ibnu Khaldun mengatakan bahwa menulis merupakan bahasa kedua setelah komunikasi. Maksudnya di sini komunikasi verbal. Keahlian ini termasuk keahlian yang mulia dan terhormat. Setidaknya, dulu semua manusia, khususnya umat Islam menganggap begitu. Kalau sekarang? Entahlah. Sebab menulis merupakan karakter khusus manusia yang membedakannya dari binatang.

239779_为你写诗

Kemampuan menulis kan sebetulnya perubahan dari dunia energi (pemikiran, analisis) menjadi materi (tulisan di atas kertas) yang dapat dinikmati semua orang. Sederhananya, karena proses menulis itu butuh pembelajaran berulang, intens, didukung komunitas yang baik, maka aktivitas ini termasuk keahlian. Belajar di sini bukan cuma latihan, tapi sekaligus belajar menjaga kekokohan tekad, belajar mengalahkan rasa malas, dan belajar menundukkan rasa tidak percaya diri.

Ibnu Khaldun mendeskripsikan bahwa dalam menulis terdapat proses pemindahan dari huruf-huruf yang tertulis menjadi kalimat-kalimat yang terucap dalam alam imajinasi. Kemudian dari kalimat-kalimat di alam imajinasi itu, beranjak menuju dunia pengertian-pengertian yang terdapat dalam jiwa manusia. Proses itu menghasilkan pemahaman terhadap teori-teori yang sebelumnya sulit dimengerti, menjadi mudah akibat pengulangan huruf demi huruf, sampai menghasilkan petunjuk demi petunjuk.

Maka, kenapa ada istilah menulis adalah membaca dua kali. Sejarah sudah mencatat bahwa di Persia pernah hidup dan tumbuh para sekretaris kerajaan yang cerdas, berwawasan luas, yang sudah dipastikan bahwa mereka pasti pandai menulis.

Sebab menjadi penulis berarti menjadi pisau. Para juru tulis kerajaan di Persia, pada umumnya adalah orang-orang cerdas. Bahkan bisa dibilang kecerdaannya overload. Konon katanya, semakin cerdas seseorang, semakin bahaya. Ingat kisah Umar yang memecat Ziyad bin Abi Sufyan yang saat itu menjabat sebagai walikota Irak?

Wahai Amirul Mukminin, apakah karena kelemahan ataukah pengkhianatanku maka Anda memberhentikanku?
Aku tidak memberhentikanmu karena salah satu dari kedua motif itu. Namun, karena aku tidak ingin membebani rakyat dengan kecerdasan pikiranmu,” jawab Umar ra.

Oleh sebab itulah, orang yang sangat cerdas dilukiskan sebagai setan, bisa membahayakan. Namun, ketika kecerdasan dan keahlian menulis itu digunakan dengan baik, pena ditajamkan hanya untuk menyampaikan kebaikan dan kebenaran, maka sebutan setan bukan lagi ditujukan bagi semua golongan manusia, tapi setan bagi kebathilan, setan bagi kejahatan, setan bagi musuh-musuh kebenaran.

Sayangnya, saya belum menemukan data statistik resmi mengenai jumlah penulis di seluruh negara di dunia. Semoga ada ya jurnal yang membahas khusus.

Apa pendapatmu? :)