Adab Bertetangga dan Curhatan Penuh Emosi

Saya nggak paham lagi sama muslimah yang ngakunya aktivis tapi akhlaknya kayak nggak pernah terdidik. Saya aktivis, saya ngaji, tapi saya paham etika meski saya nggak solehah-solehah amat, masih bejibun dosanya. Kalau dalam adat Jawa, namanya unggah-ungguh. Ini soal gimana berinteraksi di masyarakat sosial.

Sepengalaman saya selama berinteraksi dengan beragam orang, soal etika termasuk sopan santun itu faktor terbesarnya berasal dari keluarga. Sejauh mana orangtua mendidik anak-anaknya supaya terbiasa dengan adat istiadat masyarakat sosial, gimana orangtua membiasakan sopan santun di rumah sehari-hari, dan semacamnya.

Tulisan saya kali ini dapat dipastikan berisi 100% emosi yang punya landasan, nggak cuma ngomel-ngomel nggak jelas.

Tetangga Nggak Tau Diri

Saya nggak peduli lagi seandainya tetangga saya itu baca tulisan ini. Kayaknya nggak juga sih. Kalaupun baca, baguslah. Biar ngerti gimana cara menghargai orang lain, menghormati waktu orang lain.

Tiap kali si istri ke rumah saya, seringnya lama banget. Bayangin ya, hari ini dia ke rumah dari pukul 9.30 sampai lewat maghrib! GILA, KAN? Awalnya memang dia ke rumah saya karena nggak ada air di rumahnya, numpang mandi. Oke, saya nggak pernah masalah kalau urusan bantu-membantu selama memang saya mampu.

Yang jadi masalah dan bikin eneg adalah LAMA BANGET!

PERTAMA, minta makan. Sama kayak minta air tadi, saya nggak masalah dia mau minta sama lauk-lauknya sekalian, minta nasi satu rice cooker, bukan masalah. Saya kasih satu karung sekalian gapapa. Serius. Walaupun ternyata dia punya nasi di rumah, entahlah, kenapa milih minta nasi punya tetangganya.

TAPI… mintalah dengan cara yang baik. Nggak perlu pake kode supaya dikasih, nggak perlu beralasan ini itu biar saya dengan sendirinya menawarkan. Bilang aja, “Maaf, saya boleh minta nasi? Di rumah ada, tapi nasinya lebih enak punya Mbak. Nasi saya keras, nggak pulen. Terima kasih.”

Udah, gitu aja simpel kan? Lagian kalo emang niat berlama-lama di rumah saya, kenapa nggak dari awal bawa bekel nasi?

KEDUA, mau di rumah saya dulu sampai dzuhur dengan alasan sekalian nunggu suaminya pulang karena khawatir anaknya mau pipis dan di rumah dia bener-bener nggak ada air. Apa yang bikin mengganggu? DIA NGGAK PERMISI MAU BERLAMA-LAMA DI RUMAH SAYA (maksudnya rumah Ibuk saya). Minimal, minta maaf, tanya dulu tuan rumah mau ada agenda keluar rumah ga? Soalnya saya mau numpang di sini agak lama sampai suami pulang. Boleh nggak? Tuan rumah berkenan nggak?

Kalo saya ya, selain di keluarga besar, di pelajaran sekolah juga diajarin kalau bertamu itu ada jam-jamnya dan ga boleh lama-lama. Kalau mau lama, izin sejak awal dan bilang ke yang punya rumah bahwa dia ga perlu ditemenin, kalau mau beraktivitas silakan. Ini kan bikin yang punya rumah jadi ga nyaman mau ninggalin tamunya.

Sebagai tuan rumah, jelas dong saya juga punya perasaan nggak enak ninggalin tamu sendirian sama anak-anaknya sementara saya enak banget tidur santai di dalam kamar. Nggak etis. Nah, yang gini ini lho harusnya disadari masing-masing pihak.

Dia lagi susah, tuan rumah ikut susah. Puter otak cari solusi supaya segimana susahnya dia, nggak ngajak orang ikut susah. Bilang aja ke saya jujur, minta tolong bawakan air ke rumahnya, dia ga sanggup bawa karena kondisi anak-anaknya yang masih kecil ga bisa ditinggal. Jadi dia tetap di rumahnya, kalau sewaktu-waktu anaknya pipis, udah ada air walaupun sedikit. Beres, kan?

KETIGA, sampai lewat dzuhur juga ga pulang-pulang, alhasil IBUK SAYA GA BISA ISTIRAHAT! Tadi dia bilang apa? Mau sampe dzuhur. Lalu lanjut terus sampe maghrib, bahkan Ibuk saya bela-belain keluar rumah, nyari kolak saat mati lampu dan hujan lebat hanya untuk ngasih jamuan buka puasa ke dia!

Sekali lagi, masalahnya bukan di ngasih makanan buka puasa ke dia. Malah saya seneng kalo ngasih makan ke orang yang lagi puasa. Pahala besar. CUMA… lagi-lagi dia nggak ada ucapan sopan santun (yang meski basa-basi tapi itu menunjukkan permohonan maaf dia sudah merepotkan tuan rumah, sekadar tata krama coy!)

“Maaf, Bu jadi ngerepotin…dll. Terima kasih…” SAMA SEKALI NGGAK ADA KALIMAT ITU DARI MULUTNYA! Ini tamu apa gimana sih? Emosi bener deh saya. Puasa-puasa cobaannya berat bener.

Biar ibuk saya yang dapet pahala besar, cukup saya aja yang misuh-misuh kayak gini.

Hari ini paling parah deh pokoknya. Sebelumnya, beberapa kali kayak gitu juga cuma masih bisa ditolerir karena mampir ke rumah saya (tetep aja lama, tapi) nggak kayak gini. Dulu banget, awalnya saya illfeel sama si istri ini adalah ketika dia main ke rumah saya, nyariin saya, dan langsung buka pintu kamar saya TANPA PERMISI!

FIX! Sejak saat itu, saya nggak respect sama dia. Samai  sekali nggak respect. Berulang kali saya istighfar, minta ampun sama Allah atas sikap saya yang mudah “memblacklist” orang ketika orang itu NGGAK PAHAM ETIKA, NGGAK PUNYA ADAB!

Saya bilang gini nggak terus saya paling paham adab ya. Saya juga masih suka ceroboh, lupa, tapi seenggaknya saya BERUSAHA UNTUK NGGAK GANGGU WAKTU ORANG, NGGAK NYUSAHIN ORANG. Saya paling anti nyusahin orang, sekadar minta tolong hal normal aja saya masih sering merasa sungkannya minta ampun. Khawatir dia juga lagi susah, lagi sibuk, dll. Padahal ya wajar aja dan manusia memang makhluk sosial. TAPI TETEP HARUS PERHATIIN WAKTU DAN ADAB. Sekali lagi ya.

Saya nggak paham lagi lho, apakah tetangga model kayak gini yang Rasulullah contohkan? Rasul bilang, muliakan/hormati tetanggamu. Lalu sebagai tetangga (yang mana itu adalah kita sendiri) harusnya paham posisi sebagai tetangga dan jaga adabnya juga dong. Kita semua ini kan berstatus ‘tetangga’ di kehidupan sosial masyarakat. Memuliakan orang, tapi kitanya sendiri juga jangan suka nyusahin.

Ini saya mencet keyboard kenceng banget. Jebol jebol deh terserah. Saya BENCI sama orang yang nggak tau sopan santun!

Gimana Islam Mengajarkan Etika Bertetangga

Nih, kudu dicatet nih. Dalam Islam, gimana sih anjuran Rasulullah dalam berinteraksi dengan tetangga?

  1. Menghormati Tetangga dan Berperilaku Baik Terhadap Mereka

Diriwayatkan Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaq ‘alaih).

  1. Bangunan Rumah Kita Jangan Mengganggu Tetangga

Usahakan semaksimal mungkin nggak menghalangi mereka dapet sinar matahari atau udara. Kita juga nggak boleh melampaui batas tanah milik tetangga, ngerusak atau diubah, selain itu curang, perasaannya juga jadi tersakiti.

  1. Memelihara Hak-hak Tetangga, Terutama Tetangga yang Paling Dekat

Di antara hak tetangga yang harus kita pelihara adalah menjaga harta dan kehormatan mereka dari tangan orang jahat pas mereka lagi di rumah atau enggak, bantuan tetangga yang membutuhkan, memalingkan mata dari keluarga mereka yang wanita dan merahasiakan aib mereka.

  1. Tidak Mengganggu Tetangga

Seperti mengeraskan suara radio atau TV, melempari halaman mereka dengan kotoran, atau menutupi jalan bagi mereka. Seorang mukmin tidak dihalalkan mengganggu tetangganya dengan berbagai macam gangguan.

Dalam hadits Abu Hurairah disebutkan adanya larangan dan sikap tegas bagi seseorang yang mengganggu tetangganya. Rasulullah SAW menggandengkan antara iman kepada Allah dan hari Akhir, menunjukkan besarnya bahaya mengganggu tetangga.

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir maka janganlah dia mengganggu tetangganya’” (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Jangan Kikir untuk Memberikan Nasihat dan Saran kepada Mereka

Tanpa maksud menjatuhkan atau menjelek-jelekan, ternyata kita punya kewajiban menasihati tetangga jikalau ada sikapnya yang keliru. Tujuannya untuk memberikan kebaikan kepada mereka, termasuk mengajarkan dan memeperkenalkan kepada perkara yang wajib, serta menunjukkan mereka kepada al-haq (kebenaran).

 “Agama itu nasihat.” Kami (para shahabat) bertanya, “Untuk siapa wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan seluruh kaum muslimin” (HR. Muslim, Ahmad, an-Nasa’I, dan Abu Dawud).

Nah, bagian ini nih yang susah. Lancar kalo tetangga kita paham ajaran Islam untuk saling menasihati. Lah, sekarang kan ga semua paham. Yang ada kena semprot.

  1. Memberikan Makanan kepada Tetangga

Rasulullah SAW bersabda kepada Abu Dzar ra “Wahai Abu Dzar, apabila kamu memasak sayur (daging kuah) maka perbanyaklah airnya dan berilah tetanggamu” (HR. Muslim).

Tetangga yang pintunya lebih deket dari rumah kita dulu yang diberi makanan. Istilahnya, yang paling ngerasain wangi masakan kita, ya itulah yang dikasih duluan.

  1. Bergembira ketika Mereka Bergembira dan Berduka ketika Mereka Berduka

Hal sederhana kayak jenguk kalau si tetangga itu sakit, bersikap ramah dan baik kalau ketemu, sesekali undang main ke rumah, ya intinya tunjukkin gimana berakhlak baik. “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik akhlaknya” (HR. Bukhari, Ahmad, dan at-Tirmidzi).

  1. Tidak Mencari-cari Kesalahan Tetangga

Hendaknya kita nggak mencari-cari kesalahan tetangga. Jangan bahagia kalau mereka menderita atau melakukan kesalahan. Balik lagi ke awal, ya nasihatin gimana yang bener.

  1. Sabar Atas Perilaku Kurang Baik Mereka

Rasulullah SAW bersabda, “Ada tiga kelompok manusia yang dicintai Allah, … Disebutkan di antaranya: “Seseorang yang punya tetangga, ia selalu disakiti (diganggu) oleh tetangganya, tapi ia sabar atas gangguannya itu hingga keduanya dipisah boleh kematian atau keberangkatannya” (HR. Ahmad).

Tuh, jangan ganggu! Tapi ada lanjutannya di situ, HARUS SABAR. Fuuuuh, PR lah ini. Akhir cerita, sepulangnya dia dari rumah saya, saya diskusi sama Ibuk soal sopan santun. Kami ngobrol panjang. Kesimpulannya, kayak gini ini memang harus dibiasakan sejak kecil dan kami pikir, si istri itu emang nggak tau soal adab-adaban karena sejak kecil nggak diajarin. Selesai.

12 tanggapan pada “Adab Bertetangga dan Curhatan Penuh Emosi

Apa pendapatmu? :)