Kampung Sembilangan, Wajah Pesisir, dan Ide-ide Tulisan

Begitu minibus mulai memasuki jalanan kecil dengan pemandangan sawah, empang, dan sungai di kanan kiri, yang saya ingat pertama kali adalah novel.

Proyek novel berlatar pedesaan di lereng Merbabu yang ditulis sejak 2013, ternyata sampai sekarang tak kunjung selesai karena penulisnya terlalu malas menekuni proses riset yang demikian panjang dan melelahkan. Melalui perjalanan ini, akhirnya saya punya momentum untuk berbenah.

Di sepanjang jalan aspal yang berantakan dan pecah di sana-sini, pikiran saya mulai diributkan dengan rencana-rencana asyik untuk organisasi kepenulisan yang saya dan kawan-kawan kelola di Bogor. Ada variasi rasa bahagia yang berlompatan dengan perasaan lain. Bahagia karena perjalanannya sungguh di luar ekspektasi.

Tempat ini merupakan sumber ide segar dan seru untuk dielaborasi menjadi rencana-rencana perjalanan berikutnya bersama kawan-kawan Bogor: rencana perjalanan ke tempat-tempat yang akan membangun kepekaan seorang penulis.

Penulis dan Realitas Sosial

Memang demikian seharusnya rutinitas siapa saja yang hendak bertekad menjadi seorang penulis. Tak hanya duduk di depan layar laptop bersama setumpuk buku-buku yang entah kapan selesai dibaca. Ada saat-saat di mana mereka perlu bepergian ke tempat-tempat yang menampilkan realitas sosial masyarakat kelas bawah dengan segala dinamika dan keseharian yang jauh dari kata merdeka.

Sebab, kita memang tidak pernah benar-benar sejahtera, bilamana kemerdekaan adalah satu paket dengan kebebasan dan kesejahteraan yang ditandai oleh penghasilan di atas UMR (?).

Barangkali, ya, hanya barangkali, orang-orang di depan mata saya ini sanggup bertahan hidup sembari tertawa, sesekali menangis, lebih karena mereka takpernah benar-benar mengenal definisi sejahtera selain hidup bersahaja, tidak pernah meminta-minta, menikmati hasil tangkapan sendiri, dan sanggup bertahan sampai akhir karenanya.

Sejahtera adalah bersahaja. Bersahaja yang berdampingan dengan kejujuran dan kemandirian. Mereka demikian bangga dan bahagia dengan hidup yang punya harga diri. Inilah kemerdekaan yang mereka miliki dan diperjuangkan sendiri.

Susur Sungai Rindu, Bertemu Jembatan Cinta

Minibus yang mengantar saya bersama 16 kawan ke Kampung Sembilangan, Desa Hurip Jaya, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, akhirnya berhenti di depan bangunan sekolah dengan kanan-kiri empang berair hijau pekat.

Bagaimana siklus kehidupan penduduknya, tampak jelas dari lingkungan tempat tinggal, bangunan sekolah, ladang bercocok tanam, dan perairan sebagai sumber nafkah. Tidak ada pemandangan lain selain tumpukan sampah sebagai ciri khas yang paling menonjol di sepanjang jalan, di rumah-rumah. Bahkan di permukaan empang, sampah ibarat pengganti eceng gondok dan teratai.

Saya menginap di sebuah ruangan besar, sepertinya tempat mengajar anak-anak. Cuaca panas dan pengap khas pesisir ternyata mampu mengalahkan putaran kipas di atapnya. Mandi hanya jadi solusi selama beberapa menit, karena setelahnya, saya kembali berkeringat, lengket, dan gatal-gatal.

Sebelum pulang, saya dan kawan-kawan sempat menyusuri sungai rindu dan bertemu jembatan cinta di akhir perjalanan. Ini ikon khas kawasan pesisir di Kabupaten Bekasi. Rimbun pohon bakau di kanan kiri sungai ternyata menggugah pemerintah daerah untuk menjadikan kawasan ini sebagai lokasi wisata, kelak. Spanduk imbauannya sudah dipasang. Namun, saya sangsi, apakah tempat ini akan benar-benar menjadi lokasi wisata.

Tak ada yang peduli. Hanya Tuhan yang paham.

Banyak Lokalitas Terlewat

Saya menyesal, sangat menyesal. Kampung yang berada di pesisir Pantai Utara Jawa Barat, tepat di sebelah Teluk Jakarta ini tak banyak saya elaborasi. Tak tahulah, barangkali saya terlalu sibuk mengurusi pilihan mandi atau tidak, yang terus-menerus menghantui pikiran, akhirnya lupa kalau yang utama bagi penulis itu bukan mandi, tapi ide.

Sejujurnya, kampung ini bukan tujuan perjalanan yang sebenarnya. Masih berkilo-kilo jauhnya tujuan akhir bila hendak menyesuaikan dengan rencana awal. Tak ada sama sekali kegiatan lain selain acara peningkatan mutu pengurus organisasi kepenulisan berupa diskusi tentang manajemen konflik, tata cara sidang, permasalahan di cabang masing-masing, dan bahasan serupa. Tak ada yang lain.

Sangat disayangkan, ada kesempatan penting yang justru terlewat. Saya tidak tahu apakah kawan lain berpikiran serupa dengan pikiran saya. Seharusnya, kami pergi ke kampung ini juga untuk melatih sisi kritis seorang penulis. Baiklah, soal ini termasuk urusan pribadi masing-masing. Peka muncul atas dasar kesadaran, bukan permintaan.

Suara seorang penulis, dulu sampai esok di masa depan, akan terus menjadi lonceng yang bersisian dengan realitas, menegaskan bahwa kami berpihak pada orang-orang jujur yang tidak diperlakukan secara adil.

Faktanya sekarang, banyak penulis lahir dan dibesarkan untuk berpihak pada orang-orang patah hati, orang-orang yang keberatan menanggung beban rindu, orang-orang yang sulit bergerak karena terjebak mantan, penulis yang lebih banyak bicara soal cinta segitiga, kemudian lupa bahwa ada kepentingan yang jauh lebih prioritas untuk dibela.

Biarlah… mudah-mudahan saya bukan termasuk di dalamnya.

4 tanggapan pada “Kampung Sembilangan, Wajah Pesisir, dan Ide-ide Tulisan

Apa pendapatmu? :)