Kenapa Mayoritas Orang Barat Suka Fastfood?

Apalagi kalo bukan karena cepat saji?

Waktu mepet, aktivitas setumpuk, perut kosong. Ya sudahlah, daripada masak, lebih baik beli fast food. Namanya juga makanan cepat saji, maka tak perlu menunggu lama untuk masuk ke mulut. Rasa-rasanya, tidak hanya anak sekolah yang doyan makanan cepat saji, orang dewasa apalagi.

Selain faktor praktis, kita juga tidak perlu pusing mencari di mana letak restoran fast food, karena mereka selalu ada di mana saja, mudah dicari.

Sibuk

Waktu itu lebih mahal daripada makanan. Rasanya, kok, buang-buang kesempatan kalau ada waktu yang tersisihkan buat isi perut. Padahal, waktu makan itu bisa diganti dengan menyelesaikan pekerjaan kantor atau rumah yang menumpuk.

Praktis

Sudah siap tersedia, hangat, lezat, tidak perlu proses masak yang lama. Jadi, ya, lebih baik beli makanan yang begini. Lagi-lagi soal waktu. Orang-orang barat tidak mengenal kata terlambat, maka betapa mereka sangat menghargai waktu.

Ya, mungkin soal makan juga demikian. Makan itu tidak penting, seandainya manusia bisa hidup tanpa makan, barangkali itu yang mereka pikirkan.

Murah meriah

Harga makanan cepat saji memang bukan kelasnya mahasiswa yang lebih baik mampir ke warteg daripada restoran ayam kriuk-kriuk itu. Namun, bagi para pekerja kantoran, harga fast food ramah dompet dan sebanding dengan waktu makan yang dibutuhkan (singkat dan cepat).

Punya tempat makan nyaman

Kalau sedang tidak ramai, restorannya lumayan nyaman. Sayangnya, yang namanya restoran cepat saji itu selalu ramai. Ramai duduk mengobrol lama, apalagi sekarang ada wifi. Tambah betah.

Oh ya, coba perhatikan restoran cepat saji yang menunya ayam-ayaman itu. Dominasinya pasti merah dan kuning. Tahu kenapa?

Konon katanya, warna merah dan kuning itu punya filosofi dan tujuan tertentu. Warna kuning dipakai supaya orang merasa lapar dan merah dipakai supaya orang-orang makan dengan cepat. Pas, kan?

***

Kalau saya, masak makanan dengan proses panjang dan bertahap itu jadi pengalaman asyik tersendiri. Bukan soal waktu, tapi soal cita rasa, soal kenangan.

Apa pendapatmu? :)