diajengsekar

lifestyle from bookworm perspective

Marriage Life #2: Berjumpa karena Algoritma

Akhirnya, kuputuskan untuk membagikan kisah yang awalnya hendak kututup rapat, tapi kuberanikan diri—secara sadar—melakukannya karena nggak ada yang salah sama sekali dengan peristiwa ini. Bukan apa-apa. Aku hanya nggak siap dengan respons orang-orang, khususnya teman-temanku yang belum familiar dengan pencarian jodoh secara online. Meski metode ini sudah banyak digunakan jutaan orang di seluruh dunia, tapi Selengkapnya tentangMarriage Life #2: Berjumpa karena Algoritma[…]

Marriage Life #1: Menikahi WNA

Aku terbiasa masuk ke zona baru yang menyelisihi rutinitas. Makin menantang, makin semangat. Seasing-asingnya tempat atau suasana baru itu, aku tetap merasa punya kendali. Kalau kepepet dan nyasar, aku harus begini dan begitu. Aku paham aku harus melakukan apa untuk bertahan dan menyelesaikan perjalanan. Sampai kemudian Allah menempatkanku pada zona yang betul-betul asing dari sudut Selengkapnya tentangMarriage Life #1: Menikahi WNA[…]

Perjalanan Spiritual dan Momentum Besar 2023

Bulan ini, pada Jumat 17 Maret 2023, aku ke rumah Bapak di salah satu kota kecil di Jawa Tengah. Ini kali kedua aku mengunjungi Bapak setelah sebelumnya masih bermukim di rumah lama, di kota berbeda. Sebelumnya, aku menginap saat masih mahasiswa tingkat satu. Kira-kira 2010 atau 2011, aku lupa waktu tepatnya. Saat itu, aku merasa Selengkapnya tentangPerjalanan Spiritual dan Momentum Besar 2023[…]

Ketika Temanku Menikah…

Ini adalah unggahan pertamaku tentang tema yang paling kuhindari dalam setiap obrolan, tulisan, status, apa pun. Aku menghindarinya karena dua hal. Pertama, banyak orang—mungkin ini kutemukan di lingkunganku saja (?)—yang membicarakan topik ini sebagai bahan guyonan bahkan mendekati mesum. Kedua, munculnya pertanyaan lanjutan yang aku nggak tahu jawabannya karena itu berita rahasia milik Allah. “Kapan Selengkapnya tentangKetika Temanku Menikah…[…]

Pergi ke Psikolog, Bukan Berarti Kamu Gila

Harus kuakui, stigma sosial ini melekat pada anggapan bahwa ke psikolog artinya tidak normal, sakit jiwa, dan tentu saja aneh. Well, kuakui bahwa ke psikolog itu artinya ada yang perlu dibenahi dari emosi-emosi kita. Bukan lantas ‘sakit’, tapi memang kita tidak sedang baik-baik saja. Ada yang kusut dan butuh diuraikan. Secara umum, ada dua gangguan Selengkapnya tentangPergi ke Psikolog, Bukan Berarti Kamu Gila[…]

Menjawab Tantangan Global dengan Kurikulum Internasional

Amerika, Jerman, Belanda, dan seluruh negara Skandinavia adalah contoh negara-negara kebangsaan yang berhasil membangun bangsa dan peradabannya melalui pendidikan.[1] Atas dasar persepsi sekolah sebagai lembaga pendidikan yang melahirkan manusia berkualitas, itulah mengapa senator John F. Kennedy (1957) dan para Gubernur di Amerika Serikat memandang bahwa keberhasilan negaranya dalam persaingan global ditentukan oleh kualitas pembelajaran di Selengkapnya tentangMenjawab Tantangan Global dengan Kurikulum Internasional[…]

IKIGAI: Antara Hobi, Potensi, Profesi, dan Kebutuhan Zaman

Rupanya, peta hidup yang saya pahami dan susun selama ini salah. Memang tidak ada aturan baku bagaimana seharusnya menyusun peta hidup. Bebas saja, senyamannya kita. Toh, itu hanya untuk konsumsi pribadi, bukan bahan publikasi, kan? Namun, yang namanya peta, normalnya tidak hanya berisi destinasi yang hendak kita tuju, tapi juga ada rutenya. Ini yang saya Selengkapnya tentangIKIGAI: Antara Hobi, Potensi, Profesi, dan Kebutuhan Zaman[…]

Hello, 2023!

Tulisan yang belum terlambat dibuat karena ini masih pertengahan Februari. Nggak apa-apa, daripada blogku melompong, tapi tagihan terus berjalan :”) Pasca (kurang lebih) enam bulan pada 2021 yang sungguh menguji keimanan, keyakinan, dan hubunganku dengan Allah, sepanjang 2022 sampai awal 2023 kembali ditempa dengan situasi yang mengejutkan. Sebetulnya nggak terlalu mengejutkan bagi orang-orang yang paham Selengkapnya tentangHello, 2023![…]

Jurnalisme Dibungkam? Sastra Datang Melawan!

Selepas reformasi 98, pers Indonesia belum bisa dikatakan benar-benar bebas. Ketika era Orde Baru, ada lembaga bernama Otoritas Bahasa. Mereka tahu bahwa bahasa adalah salah satu kunci untuk berpikir, bicara, mengkritisi, dan menyampaikan pesan. Maka begitu bahasa dikuasai, pikiran orang juga akan mudah dikendalikan. Otoritas Bahasa itu masih ada sampai sekarang. Hanya berganti nama menjadi Selengkapnya tentangJurnalisme Dibungkam? Sastra Datang Melawan![…]

Wartawan: Idealisme VS Realita

Membaca buku yang satu ini mengingatkanku bahwa pekerjaan sebagai wartawan adalah pengalaman terbaik yang pernah kumiliki. Setelah menyelesaikan 25 bab, ada beragam perasaan yang muncul; marah, bahagia, rindu, malu. Ya, aku pernah menjadi Fais! Fais adalah seorang pemuda dengan pekerjaan sebagai juru warta/wartawan. Ia bertualang ke berbagai tempat untuk mengunjungi perempuan-perempuan yang kabarnya merupakan istri Selengkapnya tentangWartawan: Idealisme VS Realita[…]

error: Content is protected !!